Perjanjian Lama meletakkan dasar untuk pengajaran-pengajaran dan
peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Baru. Alkitab adalah wahyu
progresif. Jikalau Anda melangkahi setengah dari buku yang bagus dan
berusaha untuk menamatkannya, Anda akan sulit untuk memahami para
pemerannya, jalan ceritanya dan bagian akhirnya. Demikian pula,
Perjanjian Baru hanya dapat dipahami secara utuh ketika dipandang
sebagai sesuatu yang dibangun di atas dasar peristiwa-peristiwa, para
pemeran, hukum, sistem persembahan, perjanjian dan berbagai janji
Perjanjian Lama.
Jika kita hanya
memiliki Perjanjian Baru (PB) kita akan datang kepada Injil tanpa
mengetahui mengapa orang-orang Yahudi mencari Mesias (Raja Penyelamat).
Tanpa PL, kita tidak akan mengerti mengapa Mesias datang (lihat Yesaya
53); kita tidak dapat mengenali Yesus, orang Nazaret itu, sebagai
Mesias melalui berbagai nubuat mendetil mengenai Dia (tempat
kelahiranNya (Mikha 5:2); cara kematianNya (Mazmur 22, khusus ayat 1,
7-8, 14-18; Mazmur 69:21, dll), kebangkitanNya (Mazmur 16:10), dan
banyak lagi detil pelayananNya (Yesaya 52:13; 9:2, dll).
Tanpa PL
kita tidak dapat memahami adat istiadat orang-orang Yahudi yang
disebutkan secara sambil lalu dalam PB. Kita tidak akan dapat memahami
pemutarbalikan yang dilakukan orang-orang Farisi terhadap hukum Allah
saat mereka menambahkan kebiasaan mereka sendiri pada hukum itu. Kita
tidak akan mengerti mengapa Yesus begitu marah ketika Dia menyucikan
halaman Bait Allah. Kita tidak akan mengerti bahwa kita dapat
menggunakan hikmat yang sama yang digunakan Kristus ketika berulang kali
Dia menanggapi para seterunya (baik manusia maupun Iblis).
Perjanjian
Lama menggambarkan sistem persembahan yang diberikan Allah kepada
orang-orang Israel untuk secara sementara waktu menutupi dosa-dosa
mereka. Perjanjian Baru memperjelas bahwa sistem ini hanyalah kiasan
dari pengorbanan Kristus yang melaluinya keselamatan dapat diperoleh
(Kisah 4:12, Ibrani 10:4-10). Perjanjian Lama memperlihatkan firdaus
yang hilang; Perjanjian Baru memperlihatkan firdaus yang diperoleh
kembali melalui Adam yang kedua (Kristus) dan bagaimana suatu hari itu
akan dipulihkan kembali. Perjanjian Lama menyatakan bahwa manusia
terpisah dari Allah karena dosa (Kejadian 3), dan Perjanjian Baru
menyatakan bahwa manusia sekarang dapat dipulihkan kembali hubungannya
dengan Allah (Roma 3-6). Perjanjian Lama menubuatkan kehidupan Mesias.
Kitab-kitab Injil pada umumnya mencatat kehidupan Yesus dan Surat-Surat
menafsirkan kehidupanNya dan bagaimana kita harus menanggapi segala
yang telah dan akan dilakukanNya.
Secara ringkas, Perjanjian Lama
meletakan dasar dan untuk mempersiapkan bangsa Israel untuk kedatangan
Mesias yang akan mengorbankan diriNya bagi dosa-dosa mereka (dan bagi
dosa-dosa dunia). Perjanjian Baru menceritakan kehidupan Yesus Kristus
dan kemudian menoleh ke belakang kepada apa yang dilakukanNya dan
bagaimana seharusnya kita menanggapi karunia hidup kekal dan menghidupi
kehidupan kita dengan rasa syukur untuk segala yang telah diperbuatNya
bagi kita (Roma 12). Kedua Perjanjian ini mengungkapkan Allah yang
sama sucinya, sama pemurahnya dan sama adilnya, yang harus menghukum
dosa namun ingin membawa orang-orang berdosa kepada diriNya melalui
pengampunan yang hanya dimungkinkan melalui korban penebusan Kristus
sebagai pembayaran untuk dosa. Dalam kedua Perjanjian, Allah
mengungkapkan diriNya kepada kita dan bagaimana kita harus datang
kepadaNya melalui Yesus Kristus. Dalam kedua Perjanjian kita
mendapatkan segala yang kita perlukan untuk hidup kekal dan hidup yang
saleh (2 Timotius 3:15-17).
Kitab Suci Torat dan Injil atau Kitab Suci 2000
diterbitkan
oleh Eliezer (Suradi) ben Abraham dengan organisasi Bet Yesua
Hamasiah. KS2000 adalah puncak dari seri 5 traktat (yang kemudian
disatukan) berjudul Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (sebut saja SYBAI),
yang diterbitkan sebelumnya yang pada prinsipnya beranggapan bahwa
nama Yahweh dan Eloim tidak boleh diubah dan diterjemahkan, dan
penggunaan nama Allah yang dianggap nama dewa-berhala Arab itu sebagai
penghujatan.
KS2000 nyaris menjiplak seluruh terjemahan Lembaga
Alkitab Indonesia - Terjemahan Baru (LAI-TB), dengan perubahan kecil
yaitu dihilangkannya judul-judul perikop dan beberapa nama diganti
dalam bahasa Ibrani terutama nama Allah diganti Eloim dan sebagian nama
Tuhan diganti dengan Yahwe , dan Yesus Kristus diganti Yesua Hamasiah.
Dari awal sudah terlihat kesalahan, dimana ALKITAB (LAI-TB) yang
mencakup Perjanjian Lama dan Baru , dalam KS2000 ditulis dalam
sampulnya sebagai Kitab Suci Torat dan Injil padahal isinya mencakup PL
& PB. Seperti diketahui PL dalam bahasa Ibraninya disebut Tanakh
artinya Torat, Nebiim (kitab nabi-nabi) dan Khetubim (tulisan sastra)
ini disebutnya Torat saja, dan PB yang mencakup Injil, Kisah Para
Rasul, Surat-Surat, dan Wahyu, dalam KS2000 disebutnya Injil saja.
Secara
Etis , terlihat KS2000 tidak memiliki tata-krama penulisan karena
tidak meminta izin kepada LAI dalam menggunakan hak-cipta penerjemahan
tersebut, bahkan terjemahan LAI yang melibatkan dana mahal dan begitu
banyak ahli teologia dan bahasa itu, begitu saja dibajak tanpa menyebut
sumber dasar terjemahan (LAI-TB) yang digunakan, bahkan hasil bajakan
itu diaku seakan-akan penulisnya adalah Eliezer ben Abraham dan
organisasi kelompoknya Bet Yesua Hamasiah sebagai penerbitnya. Sungguh
disayangkan bahwa kelompok yang ingin menguduskan YHWH telah melakukan
perbuatan yang memalukan YHWH. Tiadanya etika dalam membajak karya
terjemahan LAI jelas menyiratkan motivasi apa yang berada dibalik
terjemahan itu yang kelihatannya dijiwai fanatisme Yudaisme yang jelas
berpotensi untuk memecah belah kekristenan di Indonesia.
Secara Teologis dapat dilihat banyak hal yang tidak tepat dan menunjukkan bahwa fanatisme nama Yahwe dan Eloim membuat kelompok
Nasrani ini tidak sadar akan keterbatasan pengertiannya mengenai latar
belakang sejarah, budaya, bahasa, maupun teologia Alkitab,
sehingga menghasilkan versi Kitab Suci 2000 yang jauh lebih menunjukkan
kesalahan-kesalahan penerjemahan yang lebih fatal daripada terjemahan
LAI yang ingin digantinya yang dianggap sebagai tidak benar.
Penterjemahan
Alkitab memang bukan monopoli LAI, dan setiap orang berhak merevisinya
sesuai yang benar, tetapi bila seseorang mengambil naskah LAI kemudian
mengganti beberapa kata yang malah tidak benar, tentu ini memutar
balikkan kebenaran. Apalagi kita tahu bahwa terjemahan Alkitab LAI
dikerjakan oleh puluhan ahli teologia/bahasa yang mewakili mayoritas
gereja, yaitu Protestan, Katolik, Pentakosta, Baptis dan Advent, maka
adalah ceroboh bila satu orang yang tidak belajar teologia formal begitu
saja mau menggantikan kerja tim para-ahli itu, dan menganggap karya
mereka sebagai penghujatan. Apalagi, kita ketahui bahwa faktanya, sejak
hari Pentakosta (Kis.2:11) dimana Roh
Kudus mendorong para Rasul dalam penterjemahkan, dan jauh sebelum masa
jahiliah dan Islam, orang Kristen Arab dan Yahudi sudah menyebut Allah ,
dan saat ini ada 4 versi Alkitab bahasa Arab yang semuanya menggunakan
nama Allah. Nama ini adalah transliterasi nama El ke bahasa Arab sama
halnya Alloho ke bahasa Aram-Siria.
Perbedaan,Sexualitas,dan Kontradiksi dalam PL dan PB
a. Dalam Perjanjian Lama
Perjanjian
Lama mencatat betapa pentingnya menjaga kesucian seks sehingga
hubungan seks yang terjadi di luar penikahan yang sah dipandang sama
dengan penyembahan berhala (Imamat 18:1-30, 20:10-21). Dalam
komunitas Israel, hukuman terhadap pelaku perilaku seksual di luar
pernikahan yang sah adalah hukuman mati (Ulangan 22:13-30). Kerasnya
tindakan terhadap mereka yang melakukan seks yang menyimpang dari
pernikahan disebabkan oleh keyakinan bahwa seksualitas adalah simbol
kesetiaan kepada Tuhan. Penyelewengan adalah pengingkaran dan
penghinaan akan kesucian dan kekudusan Tuhan sendiri.
b. Dalam Perjanjian Baru
Di
dalam Perjanjian Baru ditekankan makna kesucian dan kekudusan
seksualitas tetapi tidak mengingkari keunggulan kasih dan pengampunan.
Penyimpangan seksualitas dipandang sebagai bagian realitas keberdosaan
dan kelemahan manusiawi. Kasus perempuan berzinah yang diperhadapkan
kepada Tuhan Yesus tidak dihada[i secara legalistis sebagaimana yang
dipahami oleh PL bahwa pezinah harus dihukum mati (Imamat 10:20,
Ulangan 22:22-24). Bagi Yesus, penyelewengan seksual (zinah) adalah
hakekat keberdosaan manusia. Maka yang dibutuhkan bukanlah hukuman
melainkan pengampunan, kesadaran, dan penyesalan (pertobatab) serta
perubahan: ”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat
dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8:11).
Perbedaan Sifat Allah dalam PL dan PB
Pertama-tama,
kita tidak boleh lupa, bahwa Allah adalah Maha Adil namun juga Maha
Kasih. Memang jika kita membaca PL, terkesan bahwa Allah sangat tegas
dalam menghukum kesalahan, entah yang dilakukan oleh umat pilihan-Nya
ataupun bangsa- bangsa lain. Ini adalah aspek keadilan Allah. Namun
demikian, dalam PL juga menceritakan belas kasihan Allah dan
pengampunan-Nya, jika umat-Nya bertobat. Kedua hal ini (keadilan dan
belas kasihan Allah) tidak dapat dipisahkan.
PL bercerita tentang
hubungan Allah dengan bangsa Israel, tetapi PB lebih banyak bercerita
tentang hubungan Allah (melalui Yesus dan Para Rasul) dengan jemaat-Nya
(gereja-Nya).
PL menolong kita mengerti sifat-sifat Allah yang
suci, adil dan benar, tetapi PB lebih menekankan kepada sifat-sifat
Allah yang kasih, sabar dan pemurah.
Kontradiksi
Saya akan memberikan beberapa Link agar mudah dan jelas dalam mempelajari :
1. Mana yang lebih dulu diciptakan, siang-malam atau matahari ?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1130#1130
2. Mana yang lebih dulu diciptakan, pohon atau manusia?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1131#1131
3.Jika manusia mempunyai keturunan, berdosa atau tidak?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1133#1133
4.Berapa ekor kuda kereta yang dibunuh Daud?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1072#1072
5.Yang dibunuh Daud, pasukan berkuda atau pasukan jalan kaki?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1072#1072
6.Kesaksian Yesus tentang dirinya, benar atau salah?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1010#1010
7.Jam berapa Yesus disalibkan?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1018#1018
8. Apa hukumnya bersunat?
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1020#1020
Kanon Perjanjian Lama (PL)
Loh
batu yang berisi 10 hukum ditaruh dalam Tabut Perjanjian (Keluaran
40:20). Loh batu tersebut masih dalam tabut ketika Salomo membawa tabut
tersebut ke dalam Bait Elohim yang baru saja didirikan (1 Raja-raja
8:9).
Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa ditaruh di samping
tabut Tuhan sebagai saksi atas kesalahan Israel (Ulangan 31:24-26;
Keluaran 24:7)
Yosua menulis sebuah kitab yang melanjutkan kitab Taurat (Yosua 24:26).
Samuel menulis sebuah kitab, lalu ditaruh di hadapan Tuhan ( 1 Samuel 10:25).
Elohim
menggerakan orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya: Kisah
Daud oleh Nathan dan Gad (1 Tawarikh 29:29) & Kisah Salomo oleh:
Nathan, Ahia, Ido (2 Tawarikh 9:29)
Banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, dan kitab nabi-nabi yang memakai nama nabi-nabi tersebut.
Sekitar
tahun 200 SM (sekitar 280-150 SM), PL terjemahkan ke dalam bahasa
Yunani yang disebut Septuaginta. Penterjemahan ini dilakukan di Mesir.
Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang tinggal di Mesir. Fakta bahwa
pada waktu itu PL telah diterjemahkan, berarti bahwa kanon PL telah
lengkap dan semua kitab itu diterima sebagai Alkitab.
Kanon Perjanjian Baru (PB)
Pada abad ke 2 kanon PB telah lengkap. Hal ini kita ketahui dari:
The Old Syriac – terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.
Justin Martyr pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1 Timotius.
The Old Latin
– sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai Alkitab dari
gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2
Petrus.
The Muration Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus (sama dengan The Old Latin
).Codex Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan Wahyu.
Polycarp pada tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 2 Yohanes.
Irenaeus (murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.
Origen
pada sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai
berikut: ke-4 Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1
Petrus, 1 Yohanes dan Wahyu.
Eusebius di awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.
Pada tahun 367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.
Jerome pada tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat kanon PB sebanyak 27 kitab.
Akhirnya pada tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab PB
Injil
Terdiri
dari empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang
kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia. Matius menekankan Yesus
sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan
Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah.
Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda, tetapi
tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap harmonis.
Alkitab
tidak bisa salah karena bukan produk manusia. Alkitab diilhamkan oleh
ALLAH yang Maha Benar sendiri dan Roh Kudus turut berperan dalam
penulisannya. Karena itu Alkitab tidak bisa salah dalam ajaran, maksud
dan juga kalimat-kalimatnya (baik secara geografis, historis, maupun
teologis). Pemahaman ini khususnya menunjuk pada setiap huruf pada
naskah asli Alkitab, yang tidak bersalah hingga detil terkecil.
http://www.isadanislam.com
Chinatsu Hayasida Mainsite
FORUM MURTADIN INDONESIA
Muslims for Christمسلمون للمسيح
Sabtu, 26 Mei 2012
Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri?
Siapakah Yesus, Menurut Yesus Sendiri?
Bacabacaquran.com – Sekarang ini tampaknya ada banyak “varitas” sosok Yesus yang dianut orang disepanjang sejarah manusia. Ada sebutan Yesus Tuhan, Yesus Manusia, Yesus Anak, Yesus Mesias. Ada julukan Yesus Setengah Tuhan-Setengah Manusia, ada Guru Moral Teladan, Yesus Malaikat Ciptaan Pertama, Almasih Putra Maryam, sosok Terkemuka Didunia dan Diakhirat, atau sosok Kalimatullah, Rohullah yang tidak dijabarkan lebih lanjut dst.
Ada yang mengatakan Yesus itu Jin, atau yang kerasukan Jin, seorang Penipu ulung. Novel Kode Da Vinci malahan menyimpulkan Yesus adalah tokoh besar yang ke-Tuhan-annya diciptakan oleh gereja-gereja abad ke empat. Bahkan ada yang mengklaim Yesus tidak pernah ada (Ketua Ateis Amerika, Ellen Johnson). Tampaknya terdapat banyak perselisihan persepsi dan pendapat mengenai Sosok yang satu ini. Tak terhindarkan, ada banyak “yesus-yesus” yang bukan Yesus hakiki menurut kesaksian Yesus sendiri, yang salah satunya yang paling menonjol ialah sosok ISA. Namun dibalik semuanya, kepelbagaian “varitas” ini sesungguhnya bukanlah hal yang mutlak jelek, sebab fakta ini justru berkaitan dengan peneguhan kebenaran sosok Yesus, dan sekaligus Alkitab, dimana salah satu nubuat Injil digenapi secara menakjubkan!
Pertama, bukankah juga terdapat banyak sekali perbantahan manusia tentang siapa Allah atau Tuhan yang sejati? Ini menegaskan bahwa jikalau kita membicarakan sebuah sosok dari “alam luar”, maka perbantahan dikalangan manusiapun tidak akan terhindarkan.
Dengan kata lain, jikalau ada salah satu sosok yang begitu misteriusnya jatidirinya, sedemikian sehingga ia menjadi perbantahan dunia disepanjang masa, maka besar kemungkinan Zat-nya bukan berasal dari dunia ini. Dan benar, Yesus yang jelas-jelas orang Yahudi mengklaim Zat-diriNya dihadapan orang-orang Yahudi bahwa Ia bukan dari dunia ini,
“Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini…Aku keluar dan datang dari Allah.” (Yohanes 8:23, 42). Ya, RohNya keluar dari Allah, dan masuk ke dunia fisik kita.
Kedua, perbantahan semacam ini justru menggenapi nubuat ajaib dan penuh otoritas dari seorang Simeon, tentang Yesus, yang dibawa ke Bait Tuhan tatkala Ia baru berumur 8 hari. Siapa Simeon itu sehingga kita harus sungguh-sungguh mendengar nubuatnya? Dia bukan orang saleh sembarangan, melainkan seorang tua yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan dijanjikan secara khusus oleh Tuhan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Yesus, Sang Anak,
“(Simeon) seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan” (Lukas 2:25-26 ). Dan Simeon berkata kepada Maria, ibu Yesus:
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Maria) — supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34-35).
Kini seluruh dunia menyaksikan sendiri bahwa nubuat ajaib Simeon ini terpenuhi secara menakjubkan. Maka kedua fakta kencang diatas haruslah menjadi dasar pokok acuan dari setiap kita manusia –kawan atau lawan– yang ingin menyelidiki dan menghampiri sosok Yesus. Fakta dasar ini telah menantang intelektual kita semua untuk mencernakan maksud dari tanda yang disebut-sebutkan oleh Simeon, yaitu “supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” tentang siapakah sosok Yesus itu sebenarnya. Atau dengan bahasa modern sekarang, “supaya terjadi transformasi iman bagi banyak orang”!
Lebih lanjut, sambil menatang Anak itu dan memuji Tuhan, Simeon pun berkata:
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Matius 29-32).
Dalam kepenuhan Roh Kudus, Simeon menyatakan bahwa Yesus adalah Terang dan Keselamatan (Juru Selamat) yang Tuhan anugerahkan kepada segala bangsa!
Tetapi diluar pikiran Simeon sendiri, nubuatnya ini merupakan ulangan yang konfirmatif dari apa yang dimaklumatkan oleh para malaikat 8 hari sebelumnya kepada para gembala di Betlehem kala Yesus dilahirkan:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Mesias), Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10,11).
Dan maklumat umum ini menjelaskan apa yang telah malaikat Gabriel sampaikan kepada Maria secara pribadi 9 bulan sebelumnya, dan berikutnya kepada Yusuf:
“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi …Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:31, 32, 35).
“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:20-21).
Apa yang dapat kita lihat secara lurus tanpa usah ditafsir-tafsir oleh orang lain?
Yaitu bahwa Anak yang Maria lahirkan itu bukan berasal usul dari dunia ini melainkan dari Roh Kudus (Roh Allah). NamaNya Yesus –bukan Isa seperti yang digantikan/ dikisahkan ulang dari dunia, melainkan live (hidup-hidup) dari malaikat sorga, sehingga Yesus dapat diberi 5 gelar ilahiah, yaitu: Kudus, Anak Allah Yang Maha Tinggi, Juruselamat segala bangsa, Kristus (Mesias), dan Tuhan!
Maka muncul dua pertanyaan mendasar kepada kita manusia:
(1) Adakah Anak Allah dari Roh Allah yang tidak ber- DNA Allah?
(2) Siapakah didunia yang bisa menyelamatkan umat Tuhan dari dosanya jikalau Dia bukan Tuhan? Adakah sosok yang kurang dari Allah dapat menyelamatkan umat Allah dari dosa? Tidak satupun nabi yang berani mengklaim dirinya sebagai Penyelamat. Paling-paling mentok klaim sebagai penunjuk jalan selamat, pemberi peringatan dan sejenisnya! Tetapi Yesus sendiri yang berkata tentang diriNya:
“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10).
Guinness Book of World Records
Kredensi Yesus adalah sosok diriNya sendiri , yang sesungguhnya tidak membutuh-kan pembuktian lanjutan. Dengan sepatah kata dari mulut-Nya, “Jadilah!” maka terjadilah itu (Kun faya kun, Matus 9:29 dll). Anak laki-laki ajaib ini juga tumbuh tanpa mendapat pendidikan dari guru-agama manapun. Guru Besar Gamaliel tidak mengenalnya. Namun tiba-tiba dan sekaligus Ia tampil sebagai Maha-Guru ilmu kehidupan yang paling ulung. Dan bahkan mendadak menjadi Dokter Spesialis yang tak pernah gagal. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya. Dengan sepatah kata, “Talita kum!” Ia membangkitkan orang mati (Markus 5:41). Tak ada setan yang tidak takut akan Dia. Dengan sepatah kata “Enyahlah engkau Setan!” maka enyahlah setan-setan (Matius 8:16). Yesus tidak menulis apa-apa, atau mengumpulkan dan menyusun tulisan tulisan, namun Injil-Nya adalah kekal (Wahyu 14:6). Dia tidak butuh dicatatkan dalam Guinness Book of World Records, namun record book apa saja untuk siapa saja, tak satupun bisa memecahkan catatan karya-Nya! Dia bukan sosok yang bisa dibandingkan dengan makhluk mana saja…
Ia tidak punya bala tentara, atau membangun rumah (pusat) kerja, atau memiliki property pribadi. Ia bepergian setiap hari, berjalan kaki kemana-mana dalam radius seratusan mil dari kampungNya. Ia mengajar orang banyak maupun secara privat, dan berpraktek dalam kurun waktu 3 tahun. Spiritual, moral dan etika tertinggi adalah topiknya. PraktekNya membuat orang takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37). Namun aneh tak terbilang, Yesus menjadi sosok yang amat dibenci sebagian orang. Ia dimata-matai, dijebaki, sampai dikhianati. Dan akhirnya Ia ditangkap dan dinyatakan bersalah walau tanpa diadili dan tanpa bukti. Ia yang kudus, benar dan baik, telah dicurangi dan diperlakukan sebagai penjahat terbesar, dihina, dianiayai, dihukum mati dengan penyaliban, bukan karena apa (yang dilakukanNya), tetapi karena Dia menyatakan SIAPA DIA, atau tepatnya, “Dia Itu Apa” hakikinya.
Klaim Yesus tentang jatidiri-Nya telah membuat banyak orang marah dimasa-Nya. Tetapi awas, kemarahan dan kebencian ini juga diteruskan orang hingga sekarang ini. Dulu dia dipandang sebagai penghujat Elohim dan pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Namun sejarah berulang dan kini Dia tetap sama dianggap sebagai oknum yang tersangkut dengan penghujatan Allah SWT, WALAUPUN Yesus dan Allah sendiri, para Nabi, Rasul, Malaikat, dan bahkan setan dan musuh-musuh Yesus, semuanya secara mutawatir mengungkapkan jatidiri Yesus dan berkata: Dialah Anak Allah! Bacalah dan dengarlah suara ini dengan seksama:
Malaikat Gabriel menyebutnya sampai 2x dalam sekali kunjungannya kepada Maria: * “hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar
dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi”.
*“…anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”
(Lukas 1: 32, 35).
Tuhan Allah sendiri menyebut Yesus sebagai “Anak-Ku” berulang kali:
*“Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (Matius 2:15).
*Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Elohim seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
(Matius 3:16, 17).
*Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Yesus sendiri menyebutkan diriNya sebagai Anak Allah:
*“Aku telah berkata: Aku Anak Allah”. (Yohanes 10:36) .
Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) sama memberikan kesaksiannya
dengan melihat tanda-Nya:
*“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian:
Ia inilah Anak Allah.” (Yohanes 1:34)
Para Setan dan Iblis semua mengaku:*Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya
dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” (Markus 3:11)
*Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”
Akan tetapi, Muhammad yang samasekali tidak paham tentang konsep “keanakan Tuhan”, serta merta menjadi geram. Dan dengan mengatas-namakan Allah-nya ia melaknati kaum Nasrani yang berkata: “Al-Masih anak Allah” (Qs.9:30)! Dimana kebenarannya dan apa alasan geramnya? O, kita sungguh menyesalkan kesalahan yang amat fatal ini dari seorang Muhammad yang mengklaim dirinya Nabi. Ia sebagaimana orang-orang Arab sejamannya, rupa-rupanya hanya dapat memahami arti “anak” (waladun) sebagai hasil kawin biologis dengan seorang istri:
“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri”.
“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (Qs.6:101, 19:35).
Untunglah jaman telah maju dan persepsi tentang “anak” telah disadari menjangkau luas kedimensi non-biologis. “Anak Bangsa” bukan hasil kawin-mawin siapapun dengan sang Bangsa, namun ia adalah juga Bangsa.
Salah kaprah lebih jauh lagi ketika Muhammad menuduh kaum Nasrani berpoliteis TIGA Tuhan yang saling eksklusif yang diniscayakan akan saling berselisih (Qs.4:171, dan 23:91). Dan akhirnya fatal kaprah masuk kotak, tatkala Muhammad mengindikasikan 3 oknum Tuhan yang disembah oleh Nasrani adalah: Allah dan Maryam (istri), dan Anak yang dihasilkanNya (Qs.6:101, 5:116, 75). Padahal gelar “Anak” ini total merujuk kepada Firman Elohim –yang juga selamanya Allah itu– yang diturunkan kebumi (“dilahirkan/ inkarnasi”) menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yohanes 1:1,14). Dan karena berunsur “kelahiran” dengan DNA yang sama dengan Allah (Bapa Sorgawi), maka digelarlah Ia secara rohani sebagai Anak Allah. Tidak ada istilah atau gelar lain yang bisa lebih tepat untuk menggambarkan hubungan keduanya ketimbang “Bapa dan Anak”. Istilah ini tak ada kaitannya dengan sex fisikal dan keturunan biologis apapun seperti yang dpahami secara keliru oleh Muhammad, melainkan intimitas kesatuanNya dalam keilahian semesta. Yesus berkata,“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).
Socrates mengajar selama 40 tahun.
Plato 50 tahun.
Aristoteles 40 tahun.
Muhammad 23 tahun.
Namun Yesus hanya 3 tahun!
AjaranNya luas dan dalam, namun sederhana, untuk orang-orang sederhana.
Apa yang diwariskan Yesus ke dunia selama pelayanan 3 tahun itu melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu di sepanjang abad! Masyarakat dan para muridNya merasa takjub, tercengang dan gentar menyaksikan kuasa perbuatan dan pengajaranNya:
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Markus 7:37).
“Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius7:29).
Dan pada suatu saat, ketika Yesus selesai menghardik angin topan dan gelombang, mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini (Yesus), sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4:41).
Ya, nama Yesus menggentarkan mereka yang tahu. Itu sebabnya kegentaran itu terlebih-lebih terjadi dialam roh yang memang sudah tahu siapa dan apa nama tersebut,
Roh jahat berkata: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Elohim.”
“…banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit” (Matius 8:16).
Sebaliknya Muhammad takut dan tak berdaya terhadap setan. Kenapa? Karena ia tidak tahu siapa yang paling ditakuti setan. Beliau hanya dapat melakukan dua hal terhadap setan, yang mana juga dapat dilakukan oleh setiap orang biasa lainnya.
(1).Menghadapi roh jahat dan setan, Muhammad harus minta perlindungan Allah, namun tak mampu mengusirnya (sura 113, 114). Dia malahan kecolongan dengan ayat-ayat setan (lihat Qs. 53:19-22, yang dijelaskan oleh Sahih Bukhari 6:60:385; Ibn Ishaq, Translated by Guillaume, p. 146-148; Al-Tabari VI:107-108), dimana akhirnya Muhammad harus membenarkan walau tampak berkilah, bahwa setan memang menginjeksikan keinginannya pada setiap nabi ketika ayat-ayat diwahyukan, yang mana akan dihapuskan lagi oleh Allah (22:52-53!).
(2).Dan sebagai tindakan pelipur lara akan ketidak-berdayaannya, maka Muhammad mengadopsi upacara lempar jumrah yang njlimet di Mina (aksi lempar batu terhadap setan-setan dipilar Ula, Wustha, dan Aqobah) disetiap upacara Haji. Ini upacara primitif yang paling goyah landasannya. Pertama, karena hal ini bahkan tidak dikenal oleh Tuhan dan nabi-nabi Israel sebelumnya. Kedua, upacara ini bukan aslinya dari sorga, tetapi diadopsi dari ritual pagan /berhala yang sudah exist dalam sejarah pra-Islam. Dan ketiga, tentu saja setan tak dapat dilempari dengan batu-batuan karena mereka tak punya daging, kulit dan tulang. Sebaliknya para setan justru sering berbalik menyerang sekelompok pelemparnya secara gaib, yang telah menyebabkan sejumlah kematian konyol diantara pelempar jumrah.
Sungguh tragis suatu ketahyulan kosong yang di inkorporasikan kedalam sebuah “agama samawi”, sehingga tampak kehilangan otoritas Allahnya, kecuali saling membodohi. Kunci pengusiran setan tidak ada (dan tidak terbukti ada!) pada batu-batu dan manusia, melainkan hanya terbukti pada kuasa nama Yesus, tatkala setan bergemetaran atasnya! Murid-murid Yesus melaporkan hasil kuasa nama Yesus yang diimpartasikan kepada mereka: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” (Lukas 10:17).
Setan adalah mahkluk yang selalu bersiasat dan berdusta. Namun siasat dan pendustaan-nya akan STOP, tatkala berhadapan dengan Yesus dengan gemetaran. Ketika itulah “bapa segala dusta” itu akan berkata jujur dan terbuka, yang mengharuskan kita untuk percaya pula apa yang tadinya dirahasiakannya. Maka bacalah baik-baik pengakuan mereka:
“Ketika ia (orang yang kerasukan sekumpulan roh jahat) melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” (Markus 5:6-7).
“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” … Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” (Lukas 4:34-36).
Apa yang kita saksikan secara terbuka disini? Para legion setan ini tahu dan mengakui keberadaan Yesus sebagai, Sang Kudus, sosok Anak Allah yang Mahatinggi yang mampu menyiksa dan membinasakan mereka, sehingga sosok ini harus disembah sebagaimana Allah disembah oleh mereka dalam gemetaran, sebagaimana yang diserukan Yesus kepada mereka tadinya (lihat pasal yang sama pada Lukas 4:8)! Dan cukup dengan sepatah kata Yesus semua setan-setan itu terusir. Itulah Firman yang berkuasa! Tetapi adakah Quran terbuka mengatakan hal yang dahsyat ini? Justru kuasa Yesus yang satu ini yang disembunyikan kembali oleh Quran. Ayatnya dikosongkan.
Dalam Quran, Muhammad hanya mengisahkan barang sepuluh jenis mukjizat Yesus secara sambil lalu. Artinya hanya berisi list-mukjizat ini dan itu tanpa konteks dan latar belakang yang mencakup ucapan-ucapan (Firman!) yang begitu berharga dari Yesus kepada pihak-pihak yang dianugrahi mukjizat surgawi! Tuhan bukanlah tuhan yang asal “bermukjizat” ala tukang sunglap dan sihir untuk dikagumi atau ditakuti orang-orang dan selesai. Tuhan justru hanya mau melakukannya dengan suatu divine purpose, maksud ilahi-sorgawi yang dalam. Dan itu disampaikan lengkap dengan latar belakang kejadian mukjizatnya berikut kata-kata dan pengajaran Yesus dalam konteksnya. Namun semua detail berharga ini dikosong-kan dari Quran, sehingga Muslim hanya membaca mukjizat besar dalam kekosongan makna dan tujuan ilahi, a.l. “wahyu” yang berisi embel-embel daftar/ list sunglap yang Isa sampaikan sendiri kepada Bani Israel, lihat ayat ini:
“Sesungguhnya aku (Isa) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu…”. (Qs.3:49).
Banyak pihak menafikan scenario periwayatan Isa pribadi kepada Bani Israel ini. Mukjizat adikodrati tidak usah dan tidak pernah dipromosikan oleh Nabi pembuat mukjizat itu sendiri. Itu akan selalu dipromosikan oleh mulut orang-orang lain, atau untuk generasi lain yang mungkin sudah lupa atasnya. Isa dan nabinabi mulia manapun jelas tidak merasa perlu berpromosi sebegitu kasar untuk dirinya sendiri!
Dan yang fatal adalah kenyataan bahwa khusus kisah-kisah tentang kuasa Yesus yang mengusir setan dan roh-roh jahat, justru TIDAK SATUPUN diberitakan oleh Quran, padahal Muhammad sangat peka terhadap setan. Wahyu maha penting tentang cara dan kuasa dalam menaklukan setan secara nyata ini telah dikosongkan total oleh Muhammad! Sengaja? Atau wahyu yang tidak memadai? Apapun, itu adalah kesalahan, dan Andalah yang menilainya…
Pertanyaan Besar: Kenapa Harus Yesus?
Ada banyak alasan kita merisaukan hidup kita saat ini dan disini. Ada lebih banyak lagi alasan kita menggelisahkan kematian kita. Banyak ragam kehidupan yang tak mampu kita arungi sendiri. Lebih gawat lagi menghadapi alam maut yang tidak kita kenali. Namun sebenarnya ada cukup alasan kenapa kita merasa aman, terjamin, tepat dan dalam sukacita mengandalkan Yesus dalam hidup kita di dunia dan di akhirat …
Pertama, karena Yesus itu Baik dan Benar.
AjaranNya baik dan benar. Kasih dan kepedulianNya baik dan benar. KaryaNya baik dan benar, yang mengabsahkan setiap pesan dan kata-kata-Nya!
Ia baik dan benar dalam seluruh kehidupanNya, serta diakui oleh semua kawan dan lawan! Di dalam sejarah manusia sepanjang zaman, hanya Yesus-lah yang adil, kudus dan benar.
Kudusnya Yesus bukan sembarang suci, sekedar bersih atau saleh, namun KUDUS sepenuhnya secara faultless (tidak berbuat dosa), dan sinless (tanpa dosa) yang dipisahkan secara khusus dari semua mahluk ciptaan lainnya. Artinya, kudusnya Yesus adalah kekudusan yang tidak dimiliki dunia kecuali Dia seorang. Ini bahkan dibenarkan oleh Quran dan Hadis Muhammad (Qs.19:19,34; Shahih Bukhari no.1493, semua orang pernah ditepuk oleh setan ketika lahirnya, kecuali Yesus dan Maryam)
Benarnya Yesus juga bukan pula benar biasa. Ia bukan hanya berkata seperti nabi-nabi lainnya, “Apa yang Kukatakan itu benar”, namun diatas itu Ia berkata, “Akulah Kebenaran”. Ia adalah Sang Benar, Realitas tertinggi yang benar (right) dan yang betul (true) seutuhnya (Mazmur/ Zabur 33:4). Semua nabi lainnya sempat berdosa dan tidak mutlak benar. Mereka perlu minta pengampunan Tuhan.
Adam berdosa (Qs.2:35,36;7:22,23
Ibrahim berdosa (Qs.26:82)
Musa berdosa (Qs.28:15,16)
Daud berdosa (Qs.38:24,25)
Yunus berdosa (Qs.37:142)
Muhammad berdosa Qs.47:19; 48:1-2).
Apalagi pelbagai pengakuan Muhammad sendiri bahwa dia berdosa dan sering minta pengampunan Allah, yang bahkan lebih dari 70x setiap hari (Shahih Bukhari no.1732, juga 1573).
Sebaliknya hanya Yesus seorang yang berani menantang musuh-musuhNya yang selalu mencari-cari kesalahan-Nya: “Siapakah diantara kalian yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (dan tak ada yang mampu menyanggahNya). Dengan cara yang otoritatif Yesus menyatakan diriNya sebagai Sang Benar, bukan hanya mengajarkan tentang kebenaran:
“Akulah pokok anggur yang benar” …
“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 15:1; 14:6).
Sesaat setelah Yesus menghembuskan nafas terakhirNya di atas kayu salib, kepala pasukan Romawi yang menyalibkanNya terpaksa harus berbalik pikiran, hati dan batin, sehingga harus berkata dalam kegentarannya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar”.
Baiknya Yesus terpancar dalam setiap sikap dan karyanya bagi kemanusiaan. Ia mencetuskan makna moral dan etika yang paling tinggi. Apa yang diajarkan-Nya dalam pesan-pesan, itulah yang dilakukanNya! Ia yang Kalimatullah adalah identik dengan firman, pesan-pesanNya. Ia penganjur dan pelaksana keluhuran dan kejujuran, lemah lembut dan rendah hati. Ia meluruskan poligami yang banyak diselewengkan dengan nafsu syahwat dan akal-akalan manusia. Ia tidak merakusi wanita, harta dan kuasa. Tak ada istri orang yang diambil, digilir atau diperbudak. Tak ada dinar siapapun yang dijarah, atas nama “musuh Allah”. Ia hanya memberi dan memberi dalam kasih dan sukacita disepanjang hidup pelayananNya yang 1000-an hari. “Berilah, maka kamu akan diberi”. (Lukas 6:38). Dan WOW, harap dicatat Nabi dan Raja mana yang sanggup memberi apa yang Yesus telah berikan kepada anak-anak-Nya, seperti beberapa diantaranya ini?
“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. (Matius 11:28)
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”. (Yohanes 14:27).
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 2028)
“Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka (domba-dombaNya) dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya …” (Yohanes 10:28).
Bilamana Yesus melawan “antek-antek setan”, Ia tidak berperang atau membunuh manusia dengan kekerasan dan pedang. Ia tidak mengatas-namakan “Allahu Akbar” untuk menyerang dan membunuh para kafir. Ia tidak mendiskreditkan sosok wanita, melainkan mereformasi kehormatannya: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya (wanita) ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Matius 26:13).
Ringkas kata, kebaikan-kebaikan Yesus dibuktikan dalam dua arah yang sinkron, yaitu kesaksian dari mulut Yesus sendiri kepada Yohanes (Nabi Yahya), dan kesaksian mulut dari masyarakat luas tentang Yesus:
“Belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”! (Matius 1129)
Hingga kepada pembunuhNya sekalipun– dalam sekarat kematian-Nya di atas kayu salib– Ia masih peduli untuk mengampuni mereka diluar nalar: “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
Kedua, Ia seperti pengakuanNya adalah Tuhan, dan tidak bisa lain dari Tuhan yang Maha Kuasa!
Kita tahu ada sebagian orang –-apalagi Muslim—harus mengakui kebesaran kuasa Yesus di dunia dan di alam akhirat. Namun entah kenapa pengakuan yang begitu dahsyat itu hanya berhenti stop (!) sampai disitu saja, lalu ngeloyor dikaburkan atau dihambarkan oleh para ulama seolah-olah itu hal biasa saja. Padahal ada konsekwensi yang melekat atas pengakuan kuasaNya yang SUPERLATIF ini, yaitu Yesus harus dipercaya sebagai sosok yang paling berdaulat atas urusan manusia di dunia maupun kelak di akhirat! KedaulatanNya aktif di sepanjang waktu, hingga kelak tidak berhenti di akhirat pun! Juga aktif di sepenuh ruang, di dunia, alam barzakh, di semesta-alam akhirat, di sorga, manapun! Dan ini di konfirmasi pula oleh Quran (Qs.3:45),
“Kepada-Ku (Yesus) telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18).
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” (Filipi 2: 9-10).
Titel Lordship (Tuhan) ini dibuktikan Yesus dengan kuasaNya atas alam, atas hidup (dengan membangkitkan mayat, dan juga diriNya) dan atas setan. Adapun air, badai dan gelombang telah ditaklukkanNya, sehingga Yesus mampu berjalan diatas air; dan dalam menghadapi badai yang diredakan-Nya, para murid-Nya berkata dalam ketakutan: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan (gelombang) danaupun taat kepada-Nya?” (Matius 8;27, Markus 4:41, Lukas 8:25, yang sayang kesemuanya lagi-lagi dikosongkan Muhammad dari Quran).
Ini sekaligus menempatkan semua mahkluk, termasuk Muhammad, takluk dibawah otoritas-Nya. Setan dan roh-roh jahat justru semuanya tahu betapa berkuasanya Yesus sehingga mereka sampai terpaksa menyembah-Nya. Murid-murid-Nya juga tahu, maka Yesus berkata,
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.
“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8).
Jadi mau atau tidak mau, hidup kita harus berurusan dengan Dia sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Bahwa Anda menolak berurusan dengan Dia, itu tidak akan mengubah kebenaranNya sebagai Tuhan semesta-alam. Pada akhirnya kebenaran ayat-ayat inilah yang akan terjadi dalam penghakimanNya di akhir zaman. Dan apa yang akan terjadi di hari kiamat itu, tergantung kepada bagaimana respons Anda dan saya terhadap-Nya dalam kehidupan saat sekarang ini!
Ketiga, Yesus Mahakasih, berkorban segalanya bagi kita.
Para ahli teologi di abad pertengahan pernah menjajaki apa yang dinamakan “teologi keledai” (asinus-theology). Mereka mempertanyakan, “Dapatkah Tuhan menjelma menjadi keledai untuk melakukan misiNya? Atau menjelma menjadi sebuah batu?” Jawaban teologi-kilat cukup mengutib satu ayat, yaitu: tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Namun tentu teologi semacam ini akan ditolak, karena lebih merupakan spekulasi dan tafsiran satu ayat yang tidak didudukkan dalam perspektif keberadaan Tuhan terhadap manusia.
Masalahnya bukan dapat atau tidaknya Tuhan yang Maha Kuasa meng-operasikan kedaulatanNya, tetapi “Kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia? Dan bukan keledai”. Dan pertanyaan ini menjadi mudah dijawab oleh konsep relasi, yaitu bahwa Tuhan melakukan hal itu karena mau membagikan sebuah RELASI khusus dengan manusia yang sedari semula diciptakanNya menurut gambar dan rupaNya. (Kejadian 1:26; Efesus 25-6).
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari (manusia) dan menyelamatkan (manusia) yang hilang”. (Lukas 19:10). Itulah misi penyelamatan seperti yang dimaklumatkan oleh Gabriel maupun yang dinubuatkan oleh Simeon diawal tulisan ini! Itulah ujud kasih karunia-Nya yang dilimpahkanNya secara khusus kepada manusia!
Disinilah peran Yesus yang paling pokok untuk apa Ia sendiri perlu datang kedunia. Yaitu melakukan suatu karya yang tidak bisa dilakukan oleh nabi manapun dengan mengorbankan nyawaNya cuma-cuma di atas kayu salib, demi menebus dosa kematian Anda dan saya yang mau menerima-Nya. Konsep penebusan ini bukan diada-adakan oleh manusia, melainkan design Bapa Sorgawi sendiri yang dilaksanakan oleh sang Anak sebagai kurban tebusan. Yesus berkata: “Anak Manusia (Yesus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28).
Tetapi teman Muslim sering bersinis: “Apa perlunya nyawa Yesus dikurbankan untuk pengampunan dosa manusia? Bukankah Allah bisa mengampuni saja dan selesai semuanya?” Jika itu yang Anda tanyakan pula, maka Anda belum tahu apa makna hakikinya dari sebuah AMPUN.
Mengampuni? Apa yang ada dibenak Anda dengan istilah “mengampuni”?
Tuhan – dan bukan manusia– mensyaratkan pengampunan dalam arti yang amat mendasar, yaitu keharusan bagi sipengampun untuk membayar harga, harga tebusan! Elohim yang Maha Kuasa memang berkuasa mengampuni kita disetiap waktu, namun dosa kita tidak bisa diampuni begitu saja karena Ia juga adil dan konsekwen dengan hukum-pokok keadilanNya, yaitu harus menghukum setiap dosa yang kita perbuat. Disatu pihak Dia Yang Maha Kasih mau dan bisa mengampuni. Tetapi dilain pihak Dia Yang Maha Adil harus menghukum sipendosa secara konsekwen. Ia tidak mungkin Maha Adil apabila hanya sekedar “melupakan” atau “membiarkan” kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga, yang disebut penebusan.
Anda bertanya, kenapa ada harga yang terlibat?
Ya, pemahaman kita atas azas pengampunan cenderung terkontaminasi menurut arti populer saja didunia kita yang korup, bukan arti murninya. Untuk mencerna-kannya kembali, kini pikirkanlah ada seorang anak Anda yang berbuat-dosa terhadap Anda, misalnya ia memberontak dan membakar tas kantor Anda. Andapun marah. Kenapa? Karena Anda merasa dirugikan oleh perbuatan tersebut, rugi material dan immaterial. Akhirnya sang anak sadar akan kesalahannya dan minta pengampunan dari Anda, dan Anda juga rela untuk mengampuninya.
Kini karena sudah ditetapkan oleh Allah sendiri bahwa setiap pelaku dosa harus dihukum mati dalam kekekalan (dengan istilah “upah dosa adalah maut”, Kejadian 2:17, Roma 6:23), maka tak ada manusia yang sanggup membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati dipengadilan yang tidak bisa dilunaskan dengan jasa-pahala apapun yang pernah dibuat oleh si terhukum! Diperlukan pertolongan dan kekuatan dari luar sebagai penyelamat atau penebus. Dicontohkan disini satu kasus tebusan sebagai berikut ini:
Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap didiskotik ketika diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka sang hakimpun bertanya kepada si tertuduh: “Anda bersalah atau tidak bersalah?” Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10.000.000,- atau 6 bulan penjara. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan dalam sidang tersebut. Sang Hakim itu turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang Rp. 10.000.000,- dari tas-nya untuk membayar denda sigadis. Apa pasal? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapa dari sang gadis. Walau bagaimanapun cinta sang bapa pada anak gadisnya, ia tetaplah hakim yang adil dan tidak bisa berkata: “Aku mengampuni kamu karena kamu menyesal dan mau bertobat”, atau mengatakan: “Karena kasihku padamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.
Hukum keadilan tidak memungkinkan Hakim yang adil bisa mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya.
Dan inilah analogi untuk Yesus Mesias yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun kedunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT dikayu salib, yang tidak sanggup dibayar oleh sipendosa sendiri (manusia-manusia) yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang”. Maka hak qisas (hukum pembalasan yang setimpal) terhadap utang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia: “nyawa ganti nyawa” (Kel 21:24), demi menebus kematian Anda dan saya!
Kini, bagaimana teologi Islam berbicara tentang pengampunan?
Disini, teologi agama-agama yang tidak mengenal konsep penebusan Yesus (tidak mengimani anugerah Ilahi), melainkan hanya mengenal konsep usaha-diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala, akan menemui dilemma yang dahsyat. Sebab mereka tidak mempunyai cara apapun untuk merekonsiliasikan kedua sifat Allah yang saling menentang, yaitu, Maha Kasih versus Maha Adil.
Sebab jikalau Allah mengampuni semata-mata karena Maha Pengasih & PenyayangNya, maka tentulah Ia Non-Adil, karena berkolusi tidak menghukum dosa yang seharusnya dihukum. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Allah yang Maha Adil, Maha Benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut “putih” atas sesuatu yang sebenarnya “hitam”.Hukum dan Jalan Elohim itu lurus, dan Ia tidak bisa berbunglon dengan mengingkari diriNya sendiri! (2Tim.2:13). Dengan perkataan lain teologi Islam tidak mampu ber-apologi tentang azaz pengampunan yang mendasar.
Akhirnya, Tuhan Yesus menjelaskan lagi hakekat penyerahan nyawaNya untuk keselamatan domba-dombaNya. Ia berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; …Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yohanes 10:11, 17-18).
Disini kesulitan Muslim untuk memahami kenapa Yesus (kalau ilahi) bisa mati bisa dijelaskan. Yesus menjelaskan bahwa penyerahan nyawaNya itu dilakukan atas dasar kasih-setia dan sukarelanya Dia yang memberikan nyawaNya seperti yang dimintakan BapaNya. Tidak seorangpun yang berkuasa membunuh diriNya bilamana Ia memang menolak kematianNya, “sebab untuk (kematian) itulah Aku (Yesus) datang ke dalam saat ini” (Yohanes 12:27). Yesus berkuasa memberikan nyawaNya untuk mendapatkannya kembali dalam kebangkitanNya yang berkemenangan… Dengan demikian Dia telah membayar harga kematian Anda dan saya secara tunai, memenuhi AZAZ hakiki dari hukum kasihNya dan KeadilanNya!
Semua yang diutarakan diatas adalah bagian dari kesaksian Yesus tentang SIAPAKAH YESUS yang sesungguhnya. Dengan siapakah Anda dapat membandingkan diriNya? Makin Anda mencari tandingan-Nya, makin Anda akan menemui kebenaran dan keluruhan dan kedahsyatan jatiidiriNya. Kini Dia menantang Anda dengan satu pernyataan yang menentukan hidup-mati Anda: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?“
Post by: Donny Sukma
Chinatsu Hayasida Mainsite
FORUM MURTADIN INDONESIA
Muslims for Christمسلمون للمسيح
Bacabacaquran.com – Sekarang ini tampaknya ada banyak “varitas” sosok Yesus yang dianut orang disepanjang sejarah manusia. Ada sebutan Yesus Tuhan, Yesus Manusia, Yesus Anak, Yesus Mesias. Ada julukan Yesus Setengah Tuhan-Setengah Manusia, ada Guru Moral Teladan, Yesus Malaikat Ciptaan Pertama, Almasih Putra Maryam, sosok Terkemuka Didunia dan Diakhirat, atau sosok Kalimatullah, Rohullah yang tidak dijabarkan lebih lanjut dst.
Ada yang mengatakan Yesus itu Jin, atau yang kerasukan Jin, seorang Penipu ulung. Novel Kode Da Vinci malahan menyimpulkan Yesus adalah tokoh besar yang ke-Tuhan-annya diciptakan oleh gereja-gereja abad ke empat. Bahkan ada yang mengklaim Yesus tidak pernah ada (Ketua Ateis Amerika, Ellen Johnson). Tampaknya terdapat banyak perselisihan persepsi dan pendapat mengenai Sosok yang satu ini. Tak terhindarkan, ada banyak “yesus-yesus” yang bukan Yesus hakiki menurut kesaksian Yesus sendiri, yang salah satunya yang paling menonjol ialah sosok ISA. Namun dibalik semuanya, kepelbagaian “varitas” ini sesungguhnya bukanlah hal yang mutlak jelek, sebab fakta ini justru berkaitan dengan peneguhan kebenaran sosok Yesus, dan sekaligus Alkitab, dimana salah satu nubuat Injil digenapi secara menakjubkan!
Pertama, bukankah juga terdapat banyak sekali perbantahan manusia tentang siapa Allah atau Tuhan yang sejati? Ini menegaskan bahwa jikalau kita membicarakan sebuah sosok dari “alam luar”, maka perbantahan dikalangan manusiapun tidak akan terhindarkan.
Dengan kata lain, jikalau ada salah satu sosok yang begitu misteriusnya jatidirinya, sedemikian sehingga ia menjadi perbantahan dunia disepanjang masa, maka besar kemungkinan Zat-nya bukan berasal dari dunia ini. Dan benar, Yesus yang jelas-jelas orang Yahudi mengklaim Zat-diriNya dihadapan orang-orang Yahudi bahwa Ia bukan dari dunia ini,
“Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini…Aku keluar dan datang dari Allah.” (Yohanes 8:23, 42). Ya, RohNya keluar dari Allah, dan masuk ke dunia fisik kita.
Kedua, perbantahan semacam ini justru menggenapi nubuat ajaib dan penuh otoritas dari seorang Simeon, tentang Yesus, yang dibawa ke Bait Tuhan tatkala Ia baru berumur 8 hari. Siapa Simeon itu sehingga kita harus sungguh-sungguh mendengar nubuatnya? Dia bukan orang saleh sembarangan, melainkan seorang tua yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan dijanjikan secara khusus oleh Tuhan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Yesus, Sang Anak,
“(Simeon) seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan” (Lukas 2:25-26 ). Dan Simeon berkata kepada Maria, ibu Yesus:
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri (Maria) — supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Lukas 2:34-35).
Kini seluruh dunia menyaksikan sendiri bahwa nubuat ajaib Simeon ini terpenuhi secara menakjubkan. Maka kedua fakta kencang diatas haruslah menjadi dasar pokok acuan dari setiap kita manusia –kawan atau lawan– yang ingin menyelidiki dan menghampiri sosok Yesus. Fakta dasar ini telah menantang intelektual kita semua untuk mencernakan maksud dari tanda yang disebut-sebutkan oleh Simeon, yaitu “supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” tentang siapakah sosok Yesus itu sebenarnya. Atau dengan bahasa modern sekarang, “supaya terjadi transformasi iman bagi banyak orang”!
Lebih lanjut, sambil menatang Anak itu dan memuji Tuhan, Simeon pun berkata:
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Matius 29-32).
Dalam kepenuhan Roh Kudus, Simeon menyatakan bahwa Yesus adalah Terang dan Keselamatan (Juru Selamat) yang Tuhan anugerahkan kepada segala bangsa!
Tetapi diluar pikiran Simeon sendiri, nubuatnya ini merupakan ulangan yang konfirmatif dari apa yang dimaklumatkan oleh para malaikat 8 hari sebelumnya kepada para gembala di Betlehem kala Yesus dilahirkan:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Mesias), Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10,11).
Dan maklumat umum ini menjelaskan apa yang telah malaikat Gabriel sampaikan kepada Maria secara pribadi 9 bulan sebelumnya, dan berikutnya kepada Yusuf:
“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi …Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:31, 32, 35).
“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:20-21).
Apa yang dapat kita lihat secara lurus tanpa usah ditafsir-tafsir oleh orang lain?
Yaitu bahwa Anak yang Maria lahirkan itu bukan berasal usul dari dunia ini melainkan dari Roh Kudus (Roh Allah). NamaNya Yesus –bukan Isa seperti yang digantikan/ dikisahkan ulang dari dunia, melainkan live (hidup-hidup) dari malaikat sorga, sehingga Yesus dapat diberi 5 gelar ilahiah, yaitu: Kudus, Anak Allah Yang Maha Tinggi, Juruselamat segala bangsa, Kristus (Mesias), dan Tuhan!
Maka muncul dua pertanyaan mendasar kepada kita manusia:
(1) Adakah Anak Allah dari Roh Allah yang tidak ber- DNA Allah?
(2) Siapakah didunia yang bisa menyelamatkan umat Tuhan dari dosanya jikalau Dia bukan Tuhan? Adakah sosok yang kurang dari Allah dapat menyelamatkan umat Allah dari dosa? Tidak satupun nabi yang berani mengklaim dirinya sebagai Penyelamat. Paling-paling mentok klaim sebagai penunjuk jalan selamat, pemberi peringatan dan sejenisnya! Tetapi Yesus sendiri yang berkata tentang diriNya:
“Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10).
Guinness Book of World Records
Kredensi Yesus adalah sosok diriNya sendiri , yang sesungguhnya tidak membutuh-kan pembuktian lanjutan. Dengan sepatah kata dari mulut-Nya, “Jadilah!” maka terjadilah itu (Kun faya kun, Matus 9:29 dll). Anak laki-laki ajaib ini juga tumbuh tanpa mendapat pendidikan dari guru-agama manapun. Guru Besar Gamaliel tidak mengenalnya. Namun tiba-tiba dan sekaligus Ia tampil sebagai Maha-Guru ilmu kehidupan yang paling ulung. Dan bahkan mendadak menjadi Dokter Spesialis yang tak pernah gagal. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkannya. Dengan sepatah kata, “Talita kum!” Ia membangkitkan orang mati (Markus 5:41). Tak ada setan yang tidak takut akan Dia. Dengan sepatah kata “Enyahlah engkau Setan!” maka enyahlah setan-setan (Matius 8:16). Yesus tidak menulis apa-apa, atau mengumpulkan dan menyusun tulisan tulisan, namun Injil-Nya adalah kekal (Wahyu 14:6). Dia tidak butuh dicatatkan dalam Guinness Book of World Records, namun record book apa saja untuk siapa saja, tak satupun bisa memecahkan catatan karya-Nya! Dia bukan sosok yang bisa dibandingkan dengan makhluk mana saja…
Ia tidak punya bala tentara, atau membangun rumah (pusat) kerja, atau memiliki property pribadi. Ia bepergian setiap hari, berjalan kaki kemana-mana dalam radius seratusan mil dari kampungNya. Ia mengajar orang banyak maupun secara privat, dan berpraktek dalam kurun waktu 3 tahun. Spiritual, moral dan etika tertinggi adalah topiknya. PraktekNya membuat orang takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37). Namun aneh tak terbilang, Yesus menjadi sosok yang amat dibenci sebagian orang. Ia dimata-matai, dijebaki, sampai dikhianati. Dan akhirnya Ia ditangkap dan dinyatakan bersalah walau tanpa diadili dan tanpa bukti. Ia yang kudus, benar dan baik, telah dicurangi dan diperlakukan sebagai penjahat terbesar, dihina, dianiayai, dihukum mati dengan penyaliban, bukan karena apa (yang dilakukanNya), tetapi karena Dia menyatakan SIAPA DIA, atau tepatnya, “Dia Itu Apa” hakikinya.
Klaim Yesus tentang jatidiri-Nya telah membuat banyak orang marah dimasa-Nya. Tetapi awas, kemarahan dan kebencian ini juga diteruskan orang hingga sekarang ini. Dulu dia dipandang sebagai penghujat Elohim dan pengacau oleh penguasa Romawi dan Yahudi. Namun sejarah berulang dan kini Dia tetap sama dianggap sebagai oknum yang tersangkut dengan penghujatan Allah SWT, WALAUPUN Yesus dan Allah sendiri, para Nabi, Rasul, Malaikat, dan bahkan setan dan musuh-musuh Yesus, semuanya secara mutawatir mengungkapkan jatidiri Yesus dan berkata: Dialah Anak Allah! Bacalah dan dengarlah suara ini dengan seksama:
Malaikat Gabriel menyebutnya sampai 2x dalam sekali kunjungannya kepada Maria: * “hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar
dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi”.
*“…anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”
(Lukas 1: 32, 35).
Tuhan Allah sendiri menyebut Yesus sebagai “Anak-Ku” berulang kali:
*“Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (Matius 2:15).
*Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Elohim seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
(Matius 3:16, 17).
*Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Yesus sendiri menyebutkan diriNya sebagai Anak Allah:
*“Aku telah berkata: Aku Anak Allah”. (Yohanes 10:36) .
Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) sama memberikan kesaksiannya
dengan melihat tanda-Nya:
*“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian:
Ia inilah Anak Allah.” (Yohanes 1:34)
Para Setan dan Iblis semua mengaku:*Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya
dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” (Markus 3:11)
*Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”
Akan tetapi, Muhammad yang samasekali tidak paham tentang konsep “keanakan Tuhan”, serta merta menjadi geram. Dan dengan mengatas-namakan Allah-nya ia melaknati kaum Nasrani yang berkata: “Al-Masih anak Allah” (Qs.9:30)! Dimana kebenarannya dan apa alasan geramnya? O, kita sungguh menyesalkan kesalahan yang amat fatal ini dari seorang Muhammad yang mengklaim dirinya Nabi. Ia sebagaimana orang-orang Arab sejamannya, rupa-rupanya hanya dapat memahami arti “anak” (waladun) sebagai hasil kawin biologis dengan seorang istri:
“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri”.
“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia” (Qs.6:101, 19:35).
Untunglah jaman telah maju dan persepsi tentang “anak” telah disadari menjangkau luas kedimensi non-biologis. “Anak Bangsa” bukan hasil kawin-mawin siapapun dengan sang Bangsa, namun ia adalah juga Bangsa.
Salah kaprah lebih jauh lagi ketika Muhammad menuduh kaum Nasrani berpoliteis TIGA Tuhan yang saling eksklusif yang diniscayakan akan saling berselisih (Qs.4:171, dan 23:91). Dan akhirnya fatal kaprah masuk kotak, tatkala Muhammad mengindikasikan 3 oknum Tuhan yang disembah oleh Nasrani adalah: Allah dan Maryam (istri), dan Anak yang dihasilkanNya (Qs.6:101, 5:116, 75). Padahal gelar “Anak” ini total merujuk kepada Firman Elohim –yang juga selamanya Allah itu– yang diturunkan kebumi (“dilahirkan/ inkarnasi”) menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yohanes 1:1,14). Dan karena berunsur “kelahiran” dengan DNA yang sama dengan Allah (Bapa Sorgawi), maka digelarlah Ia secara rohani sebagai Anak Allah. Tidak ada istilah atau gelar lain yang bisa lebih tepat untuk menggambarkan hubungan keduanya ketimbang “Bapa dan Anak”. Istilah ini tak ada kaitannya dengan sex fisikal dan keturunan biologis apapun seperti yang dpahami secara keliru oleh Muhammad, melainkan intimitas kesatuanNya dalam keilahian semesta. Yesus berkata,“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).
Socrates mengajar selama 40 tahun.
Plato 50 tahun.
Aristoteles 40 tahun.
Muhammad 23 tahun.
Namun Yesus hanya 3 tahun!
AjaranNya luas dan dalam, namun sederhana, untuk orang-orang sederhana.
Apa yang diwariskan Yesus ke dunia selama pelayanan 3 tahun itu melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu di sepanjang abad! Masyarakat dan para muridNya merasa takjub, tercengang dan gentar menyaksikan kuasa perbuatan dan pengajaranNya:
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Markus 7:37).
“Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius7:29).
Dan pada suatu saat, ketika Yesus selesai menghardik angin topan dan gelombang, mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini (Yesus), sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4:41).
Ya, nama Yesus menggentarkan mereka yang tahu. Itu sebabnya kegentaran itu terlebih-lebih terjadi dialam roh yang memang sudah tahu siapa dan apa nama tersebut,
Roh jahat berkata: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Elohim.”
“…banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit” (Matius 8:16).
Sebaliknya Muhammad takut dan tak berdaya terhadap setan. Kenapa? Karena ia tidak tahu siapa yang paling ditakuti setan. Beliau hanya dapat melakukan dua hal terhadap setan, yang mana juga dapat dilakukan oleh setiap orang biasa lainnya.
(1).Menghadapi roh jahat dan setan, Muhammad harus minta perlindungan Allah, namun tak mampu mengusirnya (sura 113, 114). Dia malahan kecolongan dengan ayat-ayat setan (lihat Qs. 53:19-22, yang dijelaskan oleh Sahih Bukhari 6:60:385; Ibn Ishaq, Translated by Guillaume, p. 146-148; Al-Tabari VI:107-108), dimana akhirnya Muhammad harus membenarkan walau tampak berkilah, bahwa setan memang menginjeksikan keinginannya pada setiap nabi ketika ayat-ayat diwahyukan, yang mana akan dihapuskan lagi oleh Allah (22:52-53!).
(2).Dan sebagai tindakan pelipur lara akan ketidak-berdayaannya, maka Muhammad mengadopsi upacara lempar jumrah yang njlimet di Mina (aksi lempar batu terhadap setan-setan dipilar Ula, Wustha, dan Aqobah) disetiap upacara Haji. Ini upacara primitif yang paling goyah landasannya. Pertama, karena hal ini bahkan tidak dikenal oleh Tuhan dan nabi-nabi Israel sebelumnya. Kedua, upacara ini bukan aslinya dari sorga, tetapi diadopsi dari ritual pagan /berhala yang sudah exist dalam sejarah pra-Islam. Dan ketiga, tentu saja setan tak dapat dilempari dengan batu-batuan karena mereka tak punya daging, kulit dan tulang. Sebaliknya para setan justru sering berbalik menyerang sekelompok pelemparnya secara gaib, yang telah menyebabkan sejumlah kematian konyol diantara pelempar jumrah.
Sungguh tragis suatu ketahyulan kosong yang di inkorporasikan kedalam sebuah “agama samawi”, sehingga tampak kehilangan otoritas Allahnya, kecuali saling membodohi. Kunci pengusiran setan tidak ada (dan tidak terbukti ada!) pada batu-batu dan manusia, melainkan hanya terbukti pada kuasa nama Yesus, tatkala setan bergemetaran atasnya! Murid-murid Yesus melaporkan hasil kuasa nama Yesus yang diimpartasikan kepada mereka: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” (Lukas 10:17).
Setan adalah mahkluk yang selalu bersiasat dan berdusta. Namun siasat dan pendustaan-nya akan STOP, tatkala berhadapan dengan Yesus dengan gemetaran. Ketika itulah “bapa segala dusta” itu akan berkata jujur dan terbuka, yang mengharuskan kita untuk percaya pula apa yang tadinya dirahasiakannya. Maka bacalah baik-baik pengakuan mereka:
“Ketika ia (orang yang kerasukan sekumpulan roh jahat) melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” (Markus 5:6-7).
“Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” … Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” (Lukas 4:34-36).
Apa yang kita saksikan secara terbuka disini? Para legion setan ini tahu dan mengakui keberadaan Yesus sebagai, Sang Kudus, sosok Anak Allah yang Mahatinggi yang mampu menyiksa dan membinasakan mereka, sehingga sosok ini harus disembah sebagaimana Allah disembah oleh mereka dalam gemetaran, sebagaimana yang diserukan Yesus kepada mereka tadinya (lihat pasal yang sama pada Lukas 4:8)! Dan cukup dengan sepatah kata Yesus semua setan-setan itu terusir. Itulah Firman yang berkuasa! Tetapi adakah Quran terbuka mengatakan hal yang dahsyat ini? Justru kuasa Yesus yang satu ini yang disembunyikan kembali oleh Quran. Ayatnya dikosongkan.
Dalam Quran, Muhammad hanya mengisahkan barang sepuluh jenis mukjizat Yesus secara sambil lalu. Artinya hanya berisi list-mukjizat ini dan itu tanpa konteks dan latar belakang yang mencakup ucapan-ucapan (Firman!) yang begitu berharga dari Yesus kepada pihak-pihak yang dianugrahi mukjizat surgawi! Tuhan bukanlah tuhan yang asal “bermukjizat” ala tukang sunglap dan sihir untuk dikagumi atau ditakuti orang-orang dan selesai. Tuhan justru hanya mau melakukannya dengan suatu divine purpose, maksud ilahi-sorgawi yang dalam. Dan itu disampaikan lengkap dengan latar belakang kejadian mukjizatnya berikut kata-kata dan pengajaran Yesus dalam konteksnya. Namun semua detail berharga ini dikosong-kan dari Quran, sehingga Muslim hanya membaca mukjizat besar dalam kekosongan makna dan tujuan ilahi, a.l. “wahyu” yang berisi embel-embel daftar/ list sunglap yang Isa sampaikan sendiri kepada Bani Israel, lihat ayat ini:
“Sesungguhnya aku (Isa) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu…”. (Qs.3:49).
Banyak pihak menafikan scenario periwayatan Isa pribadi kepada Bani Israel ini. Mukjizat adikodrati tidak usah dan tidak pernah dipromosikan oleh Nabi pembuat mukjizat itu sendiri. Itu akan selalu dipromosikan oleh mulut orang-orang lain, atau untuk generasi lain yang mungkin sudah lupa atasnya. Isa dan nabinabi mulia manapun jelas tidak merasa perlu berpromosi sebegitu kasar untuk dirinya sendiri!
Dan yang fatal adalah kenyataan bahwa khusus kisah-kisah tentang kuasa Yesus yang mengusir setan dan roh-roh jahat, justru TIDAK SATUPUN diberitakan oleh Quran, padahal Muhammad sangat peka terhadap setan. Wahyu maha penting tentang cara dan kuasa dalam menaklukan setan secara nyata ini telah dikosongkan total oleh Muhammad! Sengaja? Atau wahyu yang tidak memadai? Apapun, itu adalah kesalahan, dan Andalah yang menilainya…
Pertanyaan Besar: Kenapa Harus Yesus?
Ada banyak alasan kita merisaukan hidup kita saat ini dan disini. Ada lebih banyak lagi alasan kita menggelisahkan kematian kita. Banyak ragam kehidupan yang tak mampu kita arungi sendiri. Lebih gawat lagi menghadapi alam maut yang tidak kita kenali. Namun sebenarnya ada cukup alasan kenapa kita merasa aman, terjamin, tepat dan dalam sukacita mengandalkan Yesus dalam hidup kita di dunia dan di akhirat …
Pertama, karena Yesus itu Baik dan Benar.
AjaranNya baik dan benar. Kasih dan kepedulianNya baik dan benar. KaryaNya baik dan benar, yang mengabsahkan setiap pesan dan kata-kata-Nya!
Ia baik dan benar dalam seluruh kehidupanNya, serta diakui oleh semua kawan dan lawan! Di dalam sejarah manusia sepanjang zaman, hanya Yesus-lah yang adil, kudus dan benar.
Kudusnya Yesus bukan sembarang suci, sekedar bersih atau saleh, namun KUDUS sepenuhnya secara faultless (tidak berbuat dosa), dan sinless (tanpa dosa) yang dipisahkan secara khusus dari semua mahluk ciptaan lainnya. Artinya, kudusnya Yesus adalah kekudusan yang tidak dimiliki dunia kecuali Dia seorang. Ini bahkan dibenarkan oleh Quran dan Hadis Muhammad (Qs.19:19,34; Shahih Bukhari no.1493, semua orang pernah ditepuk oleh setan ketika lahirnya, kecuali Yesus dan Maryam)
Benarnya Yesus juga bukan pula benar biasa. Ia bukan hanya berkata seperti nabi-nabi lainnya, “Apa yang Kukatakan itu benar”, namun diatas itu Ia berkata, “Akulah Kebenaran”. Ia adalah Sang Benar, Realitas tertinggi yang benar (right) dan yang betul (true) seutuhnya (Mazmur/ Zabur 33:4). Semua nabi lainnya sempat berdosa dan tidak mutlak benar. Mereka perlu minta pengampunan Tuhan.
Adam berdosa (Qs.2:35,36;7:22,23
Ibrahim berdosa (Qs.26:82)
Musa berdosa (Qs.28:15,16)
Daud berdosa (Qs.38:24,25)
Yunus berdosa (Qs.37:142)
Muhammad berdosa Qs.47:19; 48:1-2).
Apalagi pelbagai pengakuan Muhammad sendiri bahwa dia berdosa dan sering minta pengampunan Allah, yang bahkan lebih dari 70x setiap hari (Shahih Bukhari no.1732, juga 1573).
Sebaliknya hanya Yesus seorang yang berani menantang musuh-musuhNya yang selalu mencari-cari kesalahan-Nya: “Siapakah diantara kalian yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (dan tak ada yang mampu menyanggahNya). Dengan cara yang otoritatif Yesus menyatakan diriNya sebagai Sang Benar, bukan hanya mengajarkan tentang kebenaran:
“Akulah pokok anggur yang benar” …
“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 15:1; 14:6).
Sesaat setelah Yesus menghembuskan nafas terakhirNya di atas kayu salib, kepala pasukan Romawi yang menyalibkanNya terpaksa harus berbalik pikiran, hati dan batin, sehingga harus berkata dalam kegentarannya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar”.
Baiknya Yesus terpancar dalam setiap sikap dan karyanya bagi kemanusiaan. Ia mencetuskan makna moral dan etika yang paling tinggi. Apa yang diajarkan-Nya dalam pesan-pesan, itulah yang dilakukanNya! Ia yang Kalimatullah adalah identik dengan firman, pesan-pesanNya. Ia penganjur dan pelaksana keluhuran dan kejujuran, lemah lembut dan rendah hati. Ia meluruskan poligami yang banyak diselewengkan dengan nafsu syahwat dan akal-akalan manusia. Ia tidak merakusi wanita, harta dan kuasa. Tak ada istri orang yang diambil, digilir atau diperbudak. Tak ada dinar siapapun yang dijarah, atas nama “musuh Allah”. Ia hanya memberi dan memberi dalam kasih dan sukacita disepanjang hidup pelayananNya yang 1000-an hari. “Berilah, maka kamu akan diberi”. (Lukas 6:38). Dan WOW, harap dicatat Nabi dan Raja mana yang sanggup memberi apa yang Yesus telah berikan kepada anak-anak-Nya, seperti beberapa diantaranya ini?
“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. (Matius 11:28)
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”. (Yohanes 14:27).
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 2028)
“Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka (domba-dombaNya) dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya …” (Yohanes 10:28).
Bilamana Yesus melawan “antek-antek setan”, Ia tidak berperang atau membunuh manusia dengan kekerasan dan pedang. Ia tidak mengatas-namakan “Allahu Akbar” untuk menyerang dan membunuh para kafir. Ia tidak mendiskreditkan sosok wanita, melainkan mereformasi kehormatannya: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya (wanita) ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Matius 26:13).
Ringkas kata, kebaikan-kebaikan Yesus dibuktikan dalam dua arah yang sinkron, yaitu kesaksian dari mulut Yesus sendiri kepada Yohanes (Nabi Yahya), dan kesaksian mulut dari masyarakat luas tentang Yesus:
- “Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Lukas 7:22).
- “Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37).
“Belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”! (Matius 1129)
Hingga kepada pembunuhNya sekalipun– dalam sekarat kematian-Nya di atas kayu salib– Ia masih peduli untuk mengampuni mereka diluar nalar: “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
Kedua, Ia seperti pengakuanNya adalah Tuhan, dan tidak bisa lain dari Tuhan yang Maha Kuasa!
Kita tahu ada sebagian orang –-apalagi Muslim—harus mengakui kebesaran kuasa Yesus di dunia dan di alam akhirat. Namun entah kenapa pengakuan yang begitu dahsyat itu hanya berhenti stop (!) sampai disitu saja, lalu ngeloyor dikaburkan atau dihambarkan oleh para ulama seolah-olah itu hal biasa saja. Padahal ada konsekwensi yang melekat atas pengakuan kuasaNya yang SUPERLATIF ini, yaitu Yesus harus dipercaya sebagai sosok yang paling berdaulat atas urusan manusia di dunia maupun kelak di akhirat! KedaulatanNya aktif di sepanjang waktu, hingga kelak tidak berhenti di akhirat pun! Juga aktif di sepenuh ruang, di dunia, alam barzakh, di semesta-alam akhirat, di sorga, manapun! Dan ini di konfirmasi pula oleh Quran (Qs.3:45),
“Kepada-Ku (Yesus) telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18).
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” (Filipi 2: 9-10).
Titel Lordship (Tuhan) ini dibuktikan Yesus dengan kuasaNya atas alam, atas hidup (dengan membangkitkan mayat, dan juga diriNya) dan atas setan. Adapun air, badai dan gelombang telah ditaklukkanNya, sehingga Yesus mampu berjalan diatas air; dan dalam menghadapi badai yang diredakan-Nya, para murid-Nya berkata dalam ketakutan: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan (gelombang) danaupun taat kepada-Nya?” (Matius 8;27, Markus 4:41, Lukas 8:25, yang sayang kesemuanya lagi-lagi dikosongkan Muhammad dari Quran).
Ini sekaligus menempatkan semua mahkluk, termasuk Muhammad, takluk dibawah otoritas-Nya. Setan dan roh-roh jahat justru semuanya tahu betapa berkuasanya Yesus sehingga mereka sampai terpaksa menyembah-Nya. Murid-murid-Nya juga tahu, maka Yesus berkata,
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.
“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8).
Jadi mau atau tidak mau, hidup kita harus berurusan dengan Dia sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Bahwa Anda menolak berurusan dengan Dia, itu tidak akan mengubah kebenaranNya sebagai Tuhan semesta-alam. Pada akhirnya kebenaran ayat-ayat inilah yang akan terjadi dalam penghakimanNya di akhir zaman. Dan apa yang akan terjadi di hari kiamat itu, tergantung kepada bagaimana respons Anda dan saya terhadap-Nya dalam kehidupan saat sekarang ini!
- “Dia-lah (Tuhan Yesus) yang ditentukan Allah menjadi hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati”. (Kisah Rasul 10:42)
- “Apabila Anak Manusia (Yesus) datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya … Dan Ia akan berkata … ‘Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah dalam api yang kekal …” (Matius 25: 31, 32, 41)
- “ …pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang menyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya .” (2Tesalonika 1:7-9)
Ketiga, Yesus Mahakasih, berkorban segalanya bagi kita.
Para ahli teologi di abad pertengahan pernah menjajaki apa yang dinamakan “teologi keledai” (asinus-theology). Mereka mempertanyakan, “Dapatkah Tuhan menjelma menjadi keledai untuk melakukan misiNya? Atau menjelma menjadi sebuah batu?” Jawaban teologi-kilat cukup mengutib satu ayat, yaitu: tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! Namun tentu teologi semacam ini akan ditolak, karena lebih merupakan spekulasi dan tafsiran satu ayat yang tidak didudukkan dalam perspektif keberadaan Tuhan terhadap manusia.
Masalahnya bukan dapat atau tidaknya Tuhan yang Maha Kuasa meng-operasikan kedaulatanNya, tetapi “Kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia? Dan bukan keledai”. Dan pertanyaan ini menjadi mudah dijawab oleh konsep relasi, yaitu bahwa Tuhan melakukan hal itu karena mau membagikan sebuah RELASI khusus dengan manusia yang sedari semula diciptakanNya menurut gambar dan rupaNya. (Kejadian 1:26; Efesus 25-6).
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari (manusia) dan menyelamatkan (manusia) yang hilang”. (Lukas 19:10). Itulah misi penyelamatan seperti yang dimaklumatkan oleh Gabriel maupun yang dinubuatkan oleh Simeon diawal tulisan ini! Itulah ujud kasih karunia-Nya yang dilimpahkanNya secara khusus kepada manusia!
Disinilah peran Yesus yang paling pokok untuk apa Ia sendiri perlu datang kedunia. Yaitu melakukan suatu karya yang tidak bisa dilakukan oleh nabi manapun dengan mengorbankan nyawaNya cuma-cuma di atas kayu salib, demi menebus dosa kematian Anda dan saya yang mau menerima-Nya. Konsep penebusan ini bukan diada-adakan oleh manusia, melainkan design Bapa Sorgawi sendiri yang dilaksanakan oleh sang Anak sebagai kurban tebusan. Yesus berkata: “Anak Manusia (Yesus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28).
Tetapi teman Muslim sering bersinis: “Apa perlunya nyawa Yesus dikurbankan untuk pengampunan dosa manusia? Bukankah Allah bisa mengampuni saja dan selesai semuanya?” Jika itu yang Anda tanyakan pula, maka Anda belum tahu apa makna hakikinya dari sebuah AMPUN.
Mengampuni? Apa yang ada dibenak Anda dengan istilah “mengampuni”?
Tuhan – dan bukan manusia– mensyaratkan pengampunan dalam arti yang amat mendasar, yaitu keharusan bagi sipengampun untuk membayar harga, harga tebusan! Elohim yang Maha Kuasa memang berkuasa mengampuni kita disetiap waktu, namun dosa kita tidak bisa diampuni begitu saja karena Ia juga adil dan konsekwen dengan hukum-pokok keadilanNya, yaitu harus menghukum setiap dosa yang kita perbuat. Disatu pihak Dia Yang Maha Kasih mau dan bisa mengampuni. Tetapi dilain pihak Dia Yang Maha Adil harus menghukum sipendosa secara konsekwen. Ia tidak mungkin Maha Adil apabila hanya sekedar “melupakan” atau “membiarkan” kesalahan seseorang tanpa mempertanggung-jawabkannya dengan suatu harga, yang disebut penebusan.
Anda bertanya, kenapa ada harga yang terlibat?
Ya, pemahaman kita atas azas pengampunan cenderung terkontaminasi menurut arti populer saja didunia kita yang korup, bukan arti murninya. Untuk mencerna-kannya kembali, kini pikirkanlah ada seorang anak Anda yang berbuat-dosa terhadap Anda, misalnya ia memberontak dan membakar tas kantor Anda. Andapun marah. Kenapa? Karena Anda merasa dirugikan oleh perbuatan tersebut, rugi material dan immaterial. Akhirnya sang anak sadar akan kesalahannya dan minta pengampunan dari Anda, dan Anda juga rela untuk mengampuninya.
Kini karena sudah ditetapkan oleh Allah sendiri bahwa setiap pelaku dosa harus dihukum mati dalam kekekalan (dengan istilah “upah dosa adalah maut”, Kejadian 2:17, Roma 6:23), maka tak ada manusia yang sanggup membayar harga sebesar itu dengan usaha amal-ibadah atau cara apapun. Itu sama halnya dengan hukuman mati dipengadilan yang tidak bisa dilunaskan dengan jasa-pahala apapun yang pernah dibuat oleh si terhukum! Diperlukan pertolongan dan kekuatan dari luar sebagai penyelamat atau penebus. Dicontohkan disini satu kasus tebusan sebagai berikut ini:
Ada cerita tentang seorang wanita muda yang tertangkap didiskotik ketika diadakan razia narkoba oleh aparat negara. Ia dihadapkan ke meja hijau. Jaksa penuntut membacakan dakwaan dan tuntutan. Maka sang hakimpun bertanya kepada si tertuduh: “Anda bersalah atau tidak bersalah?” Gadis tersebut mengaku bersalah, minta ampun dan ingin bertobat. Namun sang hakim yang adil itu tetap mengetuk palunya mendenda Rp. 10.000.000,- atau 6 bulan penjara. Tiba-tiba terjadi hal yang mengagetkan dalam sidang tersebut. Sang Hakim itu turun dari kursinya sambil membuka jubahnya. Ia segera menuju kursi si terhukum, mengeluarkan uang Rp. 10.000.000,- dari tas-nya untuk membayar denda sigadis. Apa pasal? Ternyata sang hakim tersebut adalah bapa dari sang gadis. Walau bagaimanapun cinta sang bapa pada anak gadisnya, ia tetaplah hakim yang adil dan tidak bisa berkata: “Aku mengampuni kamu karena kamu menyesal dan mau bertobat”, atau mengatakan: “Karena kasihku padamu, maka Aku mengampuni kesalahanmu”.
Hukum keadilan tidak memungkinkan Hakim yang adil bisa mengampuni dosa anaknya dengan sesukanya “tanpa prosedur harga”. Maka ia yang begitu mengasihi anaknya bersedia turun dari kursi dan menanggalkan jubah kehakimannya, lalu menjadi wali untuk membayar harga denda. Inilah jalan satu-satunya bagi seorang hakim yang adil untuk memberi pengampunan bagi seorang terhukum yang dikasihinya.
Dan inilah analogi untuk Yesus Mesias yang menanggalkan jubah keilahianNya dan turun kedunia menjadi manusia demi untuk membayar harga MAUT dikayu salib, yang tidak sanggup dibayar oleh sipendosa sendiri (manusia-manusia) yang sudah terhukum mati. Yesus telah mengatakannya secara lurus, tanpa usah tafsiran, bahwa “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan (nyawa) bagi banyak orang”. Maka hak qisas (hukum pembalasan yang setimpal) terhadap utang nyawa, kini dipenuhi dalam kematian Yesus bagi manusia: “nyawa ganti nyawa” (Kel 21:24), demi menebus kematian Anda dan saya!
Kini, bagaimana teologi Islam berbicara tentang pengampunan?
Disini, teologi agama-agama yang tidak mengenal konsep penebusan Yesus (tidak mengimani anugerah Ilahi), melainkan hanya mengenal konsep usaha-diri dalam mencari ridha Allah lewat ibadah-amal-pahala, akan menemui dilemma yang dahsyat. Sebab mereka tidak mempunyai cara apapun untuk merekonsiliasikan kedua sifat Allah yang saling menentang, yaitu, Maha Kasih versus Maha Adil.
Sebab jikalau Allah mengampuni semata-mata karena Maha Pengasih & PenyayangNya, maka tentulah Ia Non-Adil, karena berkolusi tidak menghukum dosa yang seharusnya dihukum. Pengampunan model begini adalah keputusan tanpa dasar apapun kecuali sewenang-wenang. Allah yang Maha Adil, Maha Benar dan Suci itu sungguh tidak bisa begitu saja menyebut “putih” atas sesuatu yang sebenarnya “hitam”.Hukum dan Jalan Elohim itu lurus, dan Ia tidak bisa berbunglon dengan mengingkari diriNya sendiri! (2Tim.2:13). Dengan perkataan lain teologi Islam tidak mampu ber-apologi tentang azaz pengampunan yang mendasar.
Akhirnya, Tuhan Yesus menjelaskan lagi hakekat penyerahan nyawaNya untuk keselamatan domba-dombaNya. Ia berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; …Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yohanes 10:11, 17-18).
Disini kesulitan Muslim untuk memahami kenapa Yesus (kalau ilahi) bisa mati bisa dijelaskan. Yesus menjelaskan bahwa penyerahan nyawaNya itu dilakukan atas dasar kasih-setia dan sukarelanya Dia yang memberikan nyawaNya seperti yang dimintakan BapaNya. Tidak seorangpun yang berkuasa membunuh diriNya bilamana Ia memang menolak kematianNya, “sebab untuk (kematian) itulah Aku (Yesus) datang ke dalam saat ini” (Yohanes 12:27). Yesus berkuasa memberikan nyawaNya untuk mendapatkannya kembali dalam kebangkitanNya yang berkemenangan… Dengan demikian Dia telah membayar harga kematian Anda dan saya secara tunai, memenuhi AZAZ hakiki dari hukum kasihNya dan KeadilanNya!
Semua yang diutarakan diatas adalah bagian dari kesaksian Yesus tentang SIAPAKAH YESUS yang sesungguhnya. Dengan siapakah Anda dapat membandingkan diriNya? Makin Anda mencari tandingan-Nya, makin Anda akan menemui kebenaran dan keluruhan dan kedahsyatan jatiidiriNya. Kini Dia menantang Anda dengan satu pernyataan yang menentukan hidup-mati Anda: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?“
Post by: Donny Sukma
Chinatsu Hayasida Mainsite
FORUM MURTADIN INDONESIA
Muslims for Christمسلمون للمسيح
Senin, 21 Mei 2012
Sabtu, 24 Maret 2012
KENAPA AL-QURAN MENYANGKAL SALIB?
TANTANGAN: Tidak sedikit orang Musllim sudah meninggalkan Islam dan hari ini mengikut Yesus Kristus. Namun, kadangkala muncul situasi, dimana mereka tergoda untuk kembali kepada Islam. Apakah mungkin untuk menyiapkan para petobat baru itu untuk menghadapi situasi yang demikian? Apakah ada argumen yang bisa menolong seorang mantan Muslim agar tidak pernah lagi percaya kepada penyangkalan Al-Quran terhadap penyaliban Kristus?
JAWAB: Ya, ada beberapa argumentasi yang demikian. Sebagaimana diketahui, Al-Quran mengatakan bahwa Kristus tidak disalibkan, tetapi dibuat sehingga di depan orang-orang Yahudi seolah-olah mereka memang sudah menyalibkan Kristus yang sebenarnya. Dan (terkutuklah mereka, orang Yahudi) karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Nisa' 4:157-158).
Ide ini muncul dari masa sebelum Islam di antara orang-orang Kristen Gnostik, yang mencampurkan iman Kristen mereka dengan agama Gnostik. Karena hal itu, mereka dikutuk dan ditolak oleh para Bapa Gereja mula-mula, dan dinyatakan sebagai sesat. Mereka menulis teks, yang kebanyakan sudah hilang di saat ini, tetapi yang, juga, dikutip oleh Bapa-Bapa gereja mula-mula dalam buku-buku mereka mengenai bidat-bidat. Di sini kita bisa melihat contohnya: seorang Kristen Syria dan penganut Gnostik, Basilides, yang hidup antara tahun 125 dan 169 M, adalah pemimpin sebuah kelompok di Aleksandria. Seorang Bapa gereja, Irenaeus dari Lyon, menuliskan tentang dia di dalam karyanya “Melawan Bidat-Bidat” (Buku 1, 24, 4) bahwa Basilides mengajarkan:
“Bukan Dia (yaitu Kristus) yang menderita, tetapi seseorang yang bernama Simon dari Kirene, yang menggantikan Dia memikul salib (bandingkan Matius 27:32). Orang ini kemudian diubahkan oleh Dia (yaitu oleh Kristus) sehingga ia dianggap sebagai Yesus, dan kemudian disalibkab, karena ketidaktahuan dan kesalahan, sementara Yesus sendiri mengambil rupa Simon, dan berdiri di sana, mentertawakan mereka. Karena Ia memiliki kuasa yang melampaui tubuh dan memiliki Nous (pikiran) Bapa yang tidak dilahirkan itu, Ia bisa mengubah diri-Nya sekehendak-Nya, dan setelah itu naik kepada Dia yang mengutus-Nya, sambil mencemooh mereka, karena Ia tidak bisa ditangkap, dan tidak bisa dilihat oleh mereka semua ...” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman dari: Norbert Brox, "Irenäus von Lyon. Epideixis, Adversus Haereses, volume 1. Fontes Christiani, volume 8/1", 1993 (Herder, Freiburg) halaman 201.)
Teks ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar bukan Muhammad sendiri yang memunculkan penyangkalan akan penyaliban Kristus, atau menerima hal itu dari Allah. Namun, ia melanjutkan apa yang didengarnya dari orang-orang Kristen Gnostik yang demikian. Jadi Al-Quran memiliki jejak bidat Gnostik sejak jaman sebelum Islam. Contoh yang lebih jauh lagi tentang hal yang demikian di dalam Al-Quran ditemukan di dalam sepenggal kisah dari sebuah manuskrip bidat yang sangat menghujat yang saat ini hanya ada dalam terjemahan Koptik. Kitab itu disebut “Wahyu Petrus,” dan dituliskan oleh seorang Kristen Gnostik sekitar tahun 200. Di sana tertulis demikian:
“(Kristus berbicara kepada Petrus): Karena itu datanglah, mari kita menuju ke (penglihatan akan) kesempurnaan persidangan dari Bapa yang tak bernoda. Karena lihatlah, akan tiba mereka yang akan mendatangkan ke atas diri mereka (sendiri) penghukuman (yang ditanggungkan kepada-Ku), dan mereka akan dipermalukan. Tetapi Aku tidak bisa mereka sentuh. Dan engkau, Petrus, akan berdiri di tengah mereka. Jangan takut! (Aku berkata kepadamu) karena kegentaranmu (halaman 81). Pikiran mereka akan ditutup, karena yang tidak nampak itu sudah datang kepada mereka.’
Setelah Ia mengatakan semuanya itu, aku melihat Dia seolah-olah Ia ditangkap oleh mereka. Dan aku berkata, “Apakah yang aku lihat ini, Tuhan? Engkaukah yang mereka tangkap, dan akukah yang Engkau tangkap? Dan siapakah itu, siapakah (yang berdiri) di dekat kayu itu dan bergembira sambil tertawa ? Dan siapakah itu yang kaki dan tangannya mereka paku?’ Juruselamat berkata kepadaku, “Ia yang engkau lihat (berdiri) di samping kayu dan bergembira serta tertawa, itulah Yesus yang hidup. Tetapi dia yang tangan dan kakinya tertembus paku adalah yang kedagingannya (keserupaannya) yang adalah “Tebusan” yang (sendirian) mereka (bisa) permalukan. Ia diserupakan dengan Dia. Tetapi lihatlah (dengan seksama) kepadanya dan Aku.’ Tetapi aku, ketika aku memandang (dan sudah melihat), lalu berkata, ‘Tuhan, tidak ada yang dapat melihat Engkau. Mari kita pergi dari sini.’ Tetapi Ia berkata, ‘Aku sudah mengatakan bahwa mereka (itu) buta. Biarkan saja mereka! Tetapi engkau, perhatikan betapa sedikitnya mereka memahami perkataan merka sendiri. (halaman 82). Karena anak-anak dari kemuliaan (sia-sia) mereka yang sudah dipermalukan dan bukan hamba-Ku.’ Tetapi aku melihat sesuatu yang mendekati kami yang sangat mirip dengan Dia dan yang berdiri di samping kayu sambil tertawa—Ia dibentuk di dalam Roh Kudus—dan inilah sang Juruselamat.
Dan ada cahaya yang sangat besar, yang tak terkatakan yang melingkupi mereka, dan sejumlah besar yang tak terkatakan dan tak kelihatan dari bala tentara malaikat memuji mereka. Tetapi akulah orang, yang sudah melihat Dia, ketika Ia dinyatakan sebagai Dia yang dimuliakan. Karena yang mereka pakukan (di kayu salib) adalah yang sulung, dan kediaman setan-setan, dan kendi batu (Catatan: menurut sebuah legenda palsu Salomo dikatakan sudah mengurung setan-setan di dalam kendi-kendi batu), dimana mereka berdiam, Elohim, kayu salib, yang ada di bawah Hukum. Tetapi Dia yang berdiri di dekatnya adalah Juruselamat yang hidup, yang sebelumnya ada di dalam dia, yang sudah ditangkap dan kemudian (lagi) dilepaskan, yang (sekarang) berdiri dalam (keriangan) gembira, karena [Ia] melihat bahwa mereka, yang melakukan kekejaman kepada-Nya, terpecah-pecah di antara mereka sendiri. (halaman 83). Karena itu Ia mentertawakan kebutaan mereka, karena Ia tahu bahwa mereka dilahirkan buta. Karena itu kemudian (hanya) yang bisa menderita yangg memang akan , yaitu sebagaimana tubuh itu adalah ‘Tebusan.’ Tetapi dia, yang mereka (harus) lepaskan, adalah badan tak tak berbadan milikku. Aku (sendiri), adalah Roh, yang hanya bisa dipahami di dalam pikiran, penuh dengan terang yang benderang. Inilah yang engkau lihat datang kepadamu. ...” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman di dalam: Wilhelm Schneemelcher (ed.), "Neutestamentliche Apokryphen. Volume II. Apostolisches, Apokalypsen und Verwandtes", 5th edition, 1989 (Mohr-Siebeck, Tübingen) halaman 642-dst)
Teks penghujatan ini berisi pandangan yang salah dan berbahaya dari dunia Gnostik: Dunia material disebut jahat karena dianggap tidak diciptakan oleh Allah, tetapi oleh suatu roh jahat (the Demiurge). Hanya dunia Roh yang diterima sebagai miliki Allah yang baik dan benar. Semua orang, melalui pengetahuan, disebut perlu membebaskan Roh ilahinya sendiri dari kungkungan material badaniahnya dan kemudiandianggap memiliki kemampuan untuk menyatukan diri dengan Allah. Bisa dilihat dari teks yang demikian bahwa Al-Quran, sampai kepada formulasi yang khususnya, mengambil gagasan penyangkalan penyaliban Kristus dari kaum Gnostik. Bagi seorang mantan Muslim, penemuan yang demikian akan menghancurkan kewibawaan Al-Quran. Ketika ia tergoda untuk kembali kepada Islam ia bisa menanyakannya sendiri. Apakah aku percaya kepada sesuatu yang jelas tidak diwahyukan oleh Allah, tetapi muncul dari percampuran agama-agama dari masa sebelum Islam dan yang kemudian masuk ke dalam Al-Quran?
KABAR BURUK: Bukan Muhammad yang memunculkan gagasan penyangkalan akan salib. Ia nampaknya sudah disesatkan oleh para penghasut agama dari kaum Gnostik. Ia tidak hanya mengambil dari mereka gagasan tentang penyangkalan Kristus, tetapi juga secara tidak langsung iman mereka yang berasal dari setan dan yang sesat bahwa suatu roh bisa mengubah tampilan luar seseorang dengan cara sedemikian sehingga ia nampak seperti orang lain. Dengan melakukan hal itu, Muhammad sekali lagi menyatakan bahwa ia tidak bisa dengan jelas membedakan antara wahyu yang Ilahi dengan yang berasal dari si Jahat.
KABAR BAIK: Kristus sungguh-sungguh disalibkan. Ia mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita. Bahkan inspirasi setan yang membingungkan dari kaum Gnostik tidak bisa memisahkan kita dari Allah yang benar dan setia, yang dengan cara sedemikian sudah menyatukan diri-Nya dengan kita—melalui iman kepada korban penebusa Anak-Nya Yesus Kristus—yang menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.
KESAKSIAN: Nama saya Hasan dan saya seorang Kirgiz dari Asia Tengah. Saya lahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, tetapi Islam kami sanga kental bercanpur denagn praktek sihir Moldo kami. Masih di masa Sovert dulu, saya berpindah dari desa kami di pegunungan ke ibukota. Di sana saya kuliah, tetapi tidak sampai lulus ujian akhir. Karena itu akhirnya saya menjadi operator alat berat di perusahaan konstruksi. Suatu hari saat bekerja saya mengalami kecelakaan dan salah seorang teman sekerja saya meninggal karena kesalahan yang saya lakukan. Akibatnya, saya dimasukkan ke dalam penjara, tetapi saya boleh keluar dari penjara di siang hari. Karena peristiwa itu, saya banyak berpikir tentang Allah. Pada awalnya saya ingin membaca Al-Quran. Tetapi melalui salah seorang rekan di penjara, yang adalah seorang Russia yang beragama Kristen, saya justru mulai belajar Alkitab, dalam kitab itu, saya seperti melihat cermin akan dosa-dosa saya.
Melalui sahabat saya yang orang Russia itu saya bertemu dengan orang-orang Kirgiz yang beragama Kristen. Mereka menjelaskan kepada saya bahwa kematian Kristus di kayu salib sebagai pengganti itu jauh lebih kuat daripada dosa-dosa saya, dan bahwa Yesus bisa menyelamatkan saya. Saya berusaha untuk percaya kepada hal itu, tetapi tidak bisa lepas dari ikatan kuasa gelap di dalam diri saya, yang akarnya adalah dari percampuran antara Islam dengan okultisme sihir itu. Di suatu hari minggu saya bisa hadir, di siang hari, sebuah seminar Kristen tentang okultisme. Ketika saya sungguh-sungguh memahami apa arti sebenarnya dari iman Islam-okultisme kepada roh-roh itu, saya bertobat, meninggalkan semua praktek sihir saya, dan menyerahkan kehidupan saya sepenuhnya kepada Kristus. Saya bebas dari ikatan kuasa kegelapan. Hari ini saya bersaksi kepada orang-orang Kirgiz yang lain tentang bagaimana Yesus membuat hidup saya dimerdekakan.
DOA: Tuhan Yesus, kami mengucapkan syukur bahwa Engkau lebih kuat daripada kuasa kegelapan. Tolonglah saya untuk hanya mengikuti Engkau dan tidak mempedulikan setan-setan itu, sehingga tidak ada pengajaran palsu yang akan muncul dari kehidupan saya, sebagaimana yang terjadi kepada orang-orang Kristen Gnostik itu. Terima kasih bahwa Engkau sudah mati bagi kami di kayu salib.
PERTANYAAN: Pengajaran apa yang muncul sebelum Islam yang kemudian melatar belakangi penolakan Al-Quran akam penyalibak Kristus? Bagaimana hal ini mempengaruhi pemahaman anda akan Al-Quran?
UNTUK DIHAFALKAN: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.” (Roma
8:38-39 – Perkataan Rasul Paulus)
Post by :WHY WE LEFT_Hasan from Kirgiz
JAWAB: Ya, ada beberapa argumentasi yang demikian. Sebagaimana diketahui, Al-Quran mengatakan bahwa Kristus tidak disalibkan, tetapi dibuat sehingga di depan orang-orang Yahudi seolah-olah mereka memang sudah menyalibkan Kristus yang sebenarnya. Dan (terkutuklah mereka, orang Yahudi) karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Nisa' 4:157-158).
Ide ini muncul dari masa sebelum Islam di antara orang-orang Kristen Gnostik, yang mencampurkan iman Kristen mereka dengan agama Gnostik. Karena hal itu, mereka dikutuk dan ditolak oleh para Bapa Gereja mula-mula, dan dinyatakan sebagai sesat. Mereka menulis teks, yang kebanyakan sudah hilang di saat ini, tetapi yang, juga, dikutip oleh Bapa-Bapa gereja mula-mula dalam buku-buku mereka mengenai bidat-bidat. Di sini kita bisa melihat contohnya: seorang Kristen Syria dan penganut Gnostik, Basilides, yang hidup antara tahun 125 dan 169 M, adalah pemimpin sebuah kelompok di Aleksandria. Seorang Bapa gereja, Irenaeus dari Lyon, menuliskan tentang dia di dalam karyanya “Melawan Bidat-Bidat” (Buku 1, 24, 4) bahwa Basilides mengajarkan:
“Bukan Dia (yaitu Kristus) yang menderita, tetapi seseorang yang bernama Simon dari Kirene, yang menggantikan Dia memikul salib (bandingkan Matius 27:32). Orang ini kemudian diubahkan oleh Dia (yaitu oleh Kristus) sehingga ia dianggap sebagai Yesus, dan kemudian disalibkab, karena ketidaktahuan dan kesalahan, sementara Yesus sendiri mengambil rupa Simon, dan berdiri di sana, mentertawakan mereka. Karena Ia memiliki kuasa yang melampaui tubuh dan memiliki Nous (pikiran) Bapa yang tidak dilahirkan itu, Ia bisa mengubah diri-Nya sekehendak-Nya, dan setelah itu naik kepada Dia yang mengutus-Nya, sambil mencemooh mereka, karena Ia tidak bisa ditangkap, dan tidak bisa dilihat oleh mereka semua ...” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman dari: Norbert Brox, "Irenäus von Lyon. Epideixis, Adversus Haereses, volume 1. Fontes Christiani, volume 8/1", 1993 (Herder, Freiburg) halaman 201.)
Teks ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar bukan Muhammad sendiri yang memunculkan penyangkalan akan penyaliban Kristus, atau menerima hal itu dari Allah. Namun, ia melanjutkan apa yang didengarnya dari orang-orang Kristen Gnostik yang demikian. Jadi Al-Quran memiliki jejak bidat Gnostik sejak jaman sebelum Islam. Contoh yang lebih jauh lagi tentang hal yang demikian di dalam Al-Quran ditemukan di dalam sepenggal kisah dari sebuah manuskrip bidat yang sangat menghujat yang saat ini hanya ada dalam terjemahan Koptik. Kitab itu disebut “Wahyu Petrus,” dan dituliskan oleh seorang Kristen Gnostik sekitar tahun 200. Di sana tertulis demikian:
“(Kristus berbicara kepada Petrus): Karena itu datanglah, mari kita menuju ke (penglihatan akan) kesempurnaan persidangan dari Bapa yang tak bernoda. Karena lihatlah, akan tiba mereka yang akan mendatangkan ke atas diri mereka (sendiri) penghukuman (yang ditanggungkan kepada-Ku), dan mereka akan dipermalukan. Tetapi Aku tidak bisa mereka sentuh. Dan engkau, Petrus, akan berdiri di tengah mereka. Jangan takut! (Aku berkata kepadamu) karena kegentaranmu (halaman 81). Pikiran mereka akan ditutup, karena yang tidak nampak itu sudah datang kepada mereka.’
Setelah Ia mengatakan semuanya itu, aku melihat Dia seolah-olah Ia ditangkap oleh mereka. Dan aku berkata, “Apakah yang aku lihat ini, Tuhan? Engkaukah yang mereka tangkap, dan akukah yang Engkau tangkap? Dan siapakah itu, siapakah (yang berdiri) di dekat kayu itu dan bergembira sambil tertawa ? Dan siapakah itu yang kaki dan tangannya mereka paku?’ Juruselamat berkata kepadaku, “Ia yang engkau lihat (berdiri) di samping kayu dan bergembira serta tertawa, itulah Yesus yang hidup. Tetapi dia yang tangan dan kakinya tertembus paku adalah yang kedagingannya (keserupaannya) yang adalah “Tebusan” yang (sendirian) mereka (bisa) permalukan. Ia diserupakan dengan Dia. Tetapi lihatlah (dengan seksama) kepadanya dan Aku.’ Tetapi aku, ketika aku memandang (dan sudah melihat), lalu berkata, ‘Tuhan, tidak ada yang dapat melihat Engkau. Mari kita pergi dari sini.’ Tetapi Ia berkata, ‘Aku sudah mengatakan bahwa mereka (itu) buta. Biarkan saja mereka! Tetapi engkau, perhatikan betapa sedikitnya mereka memahami perkataan merka sendiri. (halaman 82). Karena anak-anak dari kemuliaan (sia-sia) mereka yang sudah dipermalukan dan bukan hamba-Ku.’ Tetapi aku melihat sesuatu yang mendekati kami yang sangat mirip dengan Dia dan yang berdiri di samping kayu sambil tertawa—Ia dibentuk di dalam Roh Kudus—dan inilah sang Juruselamat.
Dan ada cahaya yang sangat besar, yang tak terkatakan yang melingkupi mereka, dan sejumlah besar yang tak terkatakan dan tak kelihatan dari bala tentara malaikat memuji mereka. Tetapi akulah orang, yang sudah melihat Dia, ketika Ia dinyatakan sebagai Dia yang dimuliakan. Karena yang mereka pakukan (di kayu salib) adalah yang sulung, dan kediaman setan-setan, dan kendi batu (Catatan: menurut sebuah legenda palsu Salomo dikatakan sudah mengurung setan-setan di dalam kendi-kendi batu), dimana mereka berdiam, Elohim, kayu salib, yang ada di bawah Hukum. Tetapi Dia yang berdiri di dekatnya adalah Juruselamat yang hidup, yang sebelumnya ada di dalam dia, yang sudah ditangkap dan kemudian (lagi) dilepaskan, yang (sekarang) berdiri dalam (keriangan) gembira, karena [Ia] melihat bahwa mereka, yang melakukan kekejaman kepada-Nya, terpecah-pecah di antara mereka sendiri. (halaman 83). Karena itu Ia mentertawakan kebutaan mereka, karena Ia tahu bahwa mereka dilahirkan buta. Karena itu kemudian (hanya) yang bisa menderita yangg memang akan , yaitu sebagaimana tubuh itu adalah ‘Tebusan.’ Tetapi dia, yang mereka (harus) lepaskan, adalah badan tak tak berbadan milikku. Aku (sendiri), adalah Roh, yang hanya bisa dipahami di dalam pikiran, penuh dengan terang yang benderang. Inilah yang engkau lihat datang kepadamu. ...” (Diterjemahkan dari bahasa Jerman di dalam: Wilhelm Schneemelcher (ed.), "Neutestamentliche Apokryphen. Volume II. Apostolisches, Apokalypsen und Verwandtes", 5th edition, 1989 (Mohr-Siebeck, Tübingen) halaman 642-dst)
Teks penghujatan ini berisi pandangan yang salah dan berbahaya dari dunia Gnostik: Dunia material disebut jahat karena dianggap tidak diciptakan oleh Allah, tetapi oleh suatu roh jahat (the Demiurge). Hanya dunia Roh yang diterima sebagai miliki Allah yang baik dan benar. Semua orang, melalui pengetahuan, disebut perlu membebaskan Roh ilahinya sendiri dari kungkungan material badaniahnya dan kemudiandianggap memiliki kemampuan untuk menyatukan diri dengan Allah. Bisa dilihat dari teks yang demikian bahwa Al-Quran, sampai kepada formulasi yang khususnya, mengambil gagasan penyangkalan penyaliban Kristus dari kaum Gnostik. Bagi seorang mantan Muslim, penemuan yang demikian akan menghancurkan kewibawaan Al-Quran. Ketika ia tergoda untuk kembali kepada Islam ia bisa menanyakannya sendiri. Apakah aku percaya kepada sesuatu yang jelas tidak diwahyukan oleh Allah, tetapi muncul dari percampuran agama-agama dari masa sebelum Islam dan yang kemudian masuk ke dalam Al-Quran?
KABAR BURUK: Bukan Muhammad yang memunculkan gagasan penyangkalan akan salib. Ia nampaknya sudah disesatkan oleh para penghasut agama dari kaum Gnostik. Ia tidak hanya mengambil dari mereka gagasan tentang penyangkalan Kristus, tetapi juga secara tidak langsung iman mereka yang berasal dari setan dan yang sesat bahwa suatu roh bisa mengubah tampilan luar seseorang dengan cara sedemikian sehingga ia nampak seperti orang lain. Dengan melakukan hal itu, Muhammad sekali lagi menyatakan bahwa ia tidak bisa dengan jelas membedakan antara wahyu yang Ilahi dengan yang berasal dari si Jahat.
KABAR BAIK: Kristus sungguh-sungguh disalibkan. Ia mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita. Bahkan inspirasi setan yang membingungkan dari kaum Gnostik tidak bisa memisahkan kita dari Allah yang benar dan setia, yang dengan cara sedemikian sudah menyatukan diri-Nya dengan kita—melalui iman kepada korban penebusa Anak-Nya Yesus Kristus—yang menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.
KESAKSIAN: Nama saya Hasan dan saya seorang Kirgiz dari Asia Tengah. Saya lahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, tetapi Islam kami sanga kental bercanpur denagn praktek sihir Moldo kami. Masih di masa Sovert dulu, saya berpindah dari desa kami di pegunungan ke ibukota. Di sana saya kuliah, tetapi tidak sampai lulus ujian akhir. Karena itu akhirnya saya menjadi operator alat berat di perusahaan konstruksi. Suatu hari saat bekerja saya mengalami kecelakaan dan salah seorang teman sekerja saya meninggal karena kesalahan yang saya lakukan. Akibatnya, saya dimasukkan ke dalam penjara, tetapi saya boleh keluar dari penjara di siang hari. Karena peristiwa itu, saya banyak berpikir tentang Allah. Pada awalnya saya ingin membaca Al-Quran. Tetapi melalui salah seorang rekan di penjara, yang adalah seorang Russia yang beragama Kristen, saya justru mulai belajar Alkitab, dalam kitab itu, saya seperti melihat cermin akan dosa-dosa saya.
Melalui sahabat saya yang orang Russia itu saya bertemu dengan orang-orang Kirgiz yang beragama Kristen. Mereka menjelaskan kepada saya bahwa kematian Kristus di kayu salib sebagai pengganti itu jauh lebih kuat daripada dosa-dosa saya, dan bahwa Yesus bisa menyelamatkan saya. Saya berusaha untuk percaya kepada hal itu, tetapi tidak bisa lepas dari ikatan kuasa gelap di dalam diri saya, yang akarnya adalah dari percampuran antara Islam dengan okultisme sihir itu. Di suatu hari minggu saya bisa hadir, di siang hari, sebuah seminar Kristen tentang okultisme. Ketika saya sungguh-sungguh memahami apa arti sebenarnya dari iman Islam-okultisme kepada roh-roh itu, saya bertobat, meninggalkan semua praktek sihir saya, dan menyerahkan kehidupan saya sepenuhnya kepada Kristus. Saya bebas dari ikatan kuasa kegelapan. Hari ini saya bersaksi kepada orang-orang Kirgiz yang lain tentang bagaimana Yesus membuat hidup saya dimerdekakan.
DOA: Tuhan Yesus, kami mengucapkan syukur bahwa Engkau lebih kuat daripada kuasa kegelapan. Tolonglah saya untuk hanya mengikuti Engkau dan tidak mempedulikan setan-setan itu, sehingga tidak ada pengajaran palsu yang akan muncul dari kehidupan saya, sebagaimana yang terjadi kepada orang-orang Kristen Gnostik itu. Terima kasih bahwa Engkau sudah mati bagi kami di kayu salib.
PERTANYAAN: Pengajaran apa yang muncul sebelum Islam yang kemudian melatar belakangi penolakan Al-Quran akam penyalibak Kristus? Bagaimana hal ini mempengaruhi pemahaman anda akan Al-Quran?
UNTUK DIHAFALKAN: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.” (Roma
8:38-39 – Perkataan Rasul Paulus)
Post by :WHY WE LEFT_Hasan from Kirgiz
APAKAH KE-TRITUNGGALAN ALLAH ADALAH DUSTA?
TANTANGAN: Orang-orang Kristen percaya bahwa Allah adalah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Atas dasar Al-Quran, orang-orang Muslim dengan keras menolak keyakinan Allah Tritunggal di dalam Injil. Apakah Ke-Tritunggalan Bapa, Putera dan Roh Kudus merupakan suatu dusta? Apakah Al-Quran menolak ke-Tritunggalan Allah dalam pemahaman Kristiani?
JAWABAN: Di dalam Al-Quran ada lebih dari 30 bagian yang nampaknya menolak keyakinan Kristen akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Semuanya itu bisa digolongkan dalam 13 pernyataan. Namun, tidak satupun dari pernyataan itu, yang secara tepat menyentuh keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal:
1. Manusia tidak diijinkan untuk menyekutukan makhluk lain dengan Allah: Tuduhan menyekutukan atau menggabungkan makhluk lain dengan Allah (syirik) sering nampak di dalam Al-Quran, sebagai contoh: “…maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)!” (Q.S 23:92). Ini menjelaskan tentang manusia yang mengambil suatu makhluk dan kemudian menyembahnya di samping Allah. Orang-orang Kristen dengan tegas menolak melakukan hal yang demikian. Putera dan Roh Kudus bukanlah tuhan-tuhan tambahan di samping Bapa, tetapi adalah satu dengan Dia.
2. Tidak ada manusia yang menjadi tuhan selain Allah: “Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, .... …” (Surat al-Anbiya' 21:29) Orang-orang Kristen juga percaya demikian. Tidak ada manusia atau malaikat yang bisa mengatakan, “Aku adalah Allah,” karena mereka semua hanyalah makhluk Allah.
3. Tidak ada tiga allah, dan hanya ada satu Allah: “. . . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa.” (Surat al-Nisa' 4:171). Orang-orang Kristen meyakini hal itu juga. Mereka tidak percaya kepada tiga allah, tetapi kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus sebagai satu-satunya Allah.
4. Allah bukan salah satu dari antara tiga: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", ...” (Surat al-Ma'ida 5:73) Ini, juga ditegaskan oleh orang-orang Kristen. Allah bukanlah salah satu dari tiga: Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah Allah yang satu dan unik.
5. Allah bukanlah al-Masih: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera … ” (Surat al-Ma’ida 5:17, 72) Tidak ada orang Kristen yang mengatakan, “Tidak ada Allah selain Kristus, dan kami hanya menyembah Dia.” Namun, mereka, sebagaimana yang ditulis di dalam Al-Quran, percaya bahwa Kristus adalah Firman Allah yang menjadi manusia.
6. Allah tidak menambahkan kepada diri-Nya satu ilah lain yang dilahirkan (walad): Pernyataan ini muncul 13 kali di dalam Al-Quran, sebagai contoh, “Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak yang dilahirkan-Nya (walad)". Maha Suci Allah! Tidak demikian! …” (Surat al-Baqara 2:116; lihat juga Q.S 10:68; 17:111; 18:4; 19:35; 19:88-92 (tiga kali); 21:26; 23:91; 25:2; 39:4 dan 72:3) Orang-orang Kristen menolak, sebagaimana orang-orang Muslim juga, pandangan apapun bahwa Allah mengambil bagi diri-Nya suatu pribadi Ilahi yang dilahirkan (walad) secara alamiah, yaitu dilahirkan melalui ayah duniawi dan dilahirkan oleh ayah duniawi itu. Bapa, Putera dan Roh Kudus tidak menjadi satu pada suatu waktu di masa lalu, namun, Bapa, Putera dan Roh Kudus sudah dari kekekalan adalah Allah yang satu dan unik. Bapa tidak menambahkan kepada diri-Nya sebagai Allah suatu pribadi yang dilahirkan secara manusia, namun, dengan menjadi manusia, Putera yang kekal yang selalu menjadi satu dengan Bapa, menjadi Pribadi yang dilahirkan secara manusia (walad), ketika anak dara Maria melahirkan-Nya.
7. Allah tidak memiliki seksualitas seperti manusia: “…Bagaimana Dia (yaitu Allah) mempunyai anak (walad) padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu;” (Surat al-An'am 6:101; lihat juga Surat 5:116). Orang-orang Kristen menolak hal itu juga. Allah tidak menjadi seorang laki-laki untuk bisa menjalani hubungan seksual dengan seorang wanita dari dunia ini dan mendapatkan seorang anak darinya, yang kemudian harus dilahirkannya. Namun, tanpa melalui istri, sang Anak langsung ada dari Bapa, bukan secara seksual tetapi secara rohani, dan di dalam Roh Kudus sang Putera tetap menjadi satu dengan Bapa. Anak yang kekal menjadi manusia, dengan dilahirkan oleh anak dara Maria.
8. Allah tidak beranak: “Dia (yaitu Allah) tiada beranak (lam yalid) …” (Surat al-Ikhlas 112:3) Al-Quran mengartikan pernyataan ini dalam artian seksualitas. Orang-orang Kristen tidak percaya akan kelahiran sang Putera dalam arti seksualitas muncul dari Bapa sebagai ibu-Nya. Namun, sang Putera adalah anak secara langsung secara rohani dari Bapa, yang speenuhnya satu dengan Dia.
9. Allah tidak diperanakkan: “…dan tidak (Allah) pula diperanakkan (lam yuwlad).” (Surat al-Ikhlas 112:3) Hal yang sama terjadi di sini. Sang Putera, sebagai anak, tidak dilahirkan dalam arti seksual dari Allah sebagai ibu-Nya. Namun, Ia adalah Anak yang unik, rohani dan kekal yang langsung berasal dari Bapa, dan menjadi manusia ketika anak Maria melahirkan-Nya.
10. Allah tidak memiliki pribadi yang dilahirkan-Nya (walad): “Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak (walad), maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (Surat al-Zukhruf 43:81; lihat juga Surat 4:171d) Di sini, Al-Quran menjelaskan mengenai kelahiran secara seksual melalui seorang istri. Orangorang Kristen juga percaya : Semua manusia yang dilahirkan adalah milik Allah, tetapi tidak satupun dari mereka yang adalah ilah karena dilahirkan secara seksual.
11. Kristus bukanlah anak (ibn) Allah: “…orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera (ibn) Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling!” (Surat at-Taubah 9:30) Di sini Al-Quran, paling tidak dalam pemahaman linguistiknya, hampir mendekati keyakinan yang sesungguhnya dipercaya oleh orang-orang Kristen. Dalam Perjanjian Baru Kristus disebutkan 43 kali disebut secara langsung, dan 25 kali secara tidak langsung, sebagai Anak Allah. Namun karena orang-orang Muslim tidak pernah memahami keberadaan Kristus sebagai Putera yang Ilahi tanpa kaitan dengan hal seksual, maka bahkan ayat inipun tidak menyentuh iman Kristen, karena Kristus adalah Anak dari Bapa dalam arti rohani, dan bukan dalam pemahaman seksual.
12. Manusia bukanlah anak-anak Allah: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak (abna’ = bentuk jamak untuk ibn) Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya ...” (Surat al-Ma'ida 5:18) Yang dikatakan di atas tentang Kristus Putera Allah juga harus disebutkan di sini. Orang-orang Kristen tidak menganggap diri mereka, sebagaimana tafsiran orang-orang Muslim dari ayat ini, sebagai anak-anak yang secara seksual dilahirkan oleh Allah, tetapi sebagai anak-anak rohani yang diangkat oleh Allah ke dalam persekutuan Ilahi dengan-Nya.
13. Kristus bukan Tuhan selain Allah: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya (ahbar) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. …” (Surat at-Taubah 9:31; lihat juga Q.S 17:111)
Orang-orang Kristen tidak percaya bahwa Kristus menjadi Tuhan, karena Ia menggantikan posisi Allah, tetapi karena Ia, sebagai Putera, yang sejak kekekalan adalah satu dengan Bapa dan Roh Kudus.
Sebagai tambahan untuk pernyataan-pernyataan di dalam Al-Quran di atas yang nampaknya menolak iman Kristen kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus ada beberapa bagian di dalam Al-Quran yang secara praktis menegaskan iman Kristen kepada Allah Tritunggal:
1. Allah meneguhkan Kristus dengan Roh Kudus: “…Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus...” (Surat al-Baqara 2:87, 253; lihat juga Surat 5:110, dimana beberapa dari mujizat Kristus disebutkan) Allah meneguhkan anak Maria dengan Roh Kudus, sehingga Ia bisa melakukan mujizat. Di sini Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus berkarya bersama. Ini adalah Allah Tritunggal yang berkarya, yang dipercaya oleh orang Kristen.
2. Kristus adalah Roh Allah: “... Sesungguhnya Al Masih, 'Isa (Yesus) putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan firman-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya (yaitu Allah) .... …” (Surat an-Nisa' 4:171; lihat juga Suras 21:91 and 66:12) Di sini Al-Quran tidak hanya mengungkapkan adanya kerjasama antara Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus, tetapi juga menegaskan tentang hakekat kesatuan antara Allah Bapa, Roh-Nya dan Kristus. Ini hanya bisa dipahami dalam kerangka iman Kristen kepada Allah Tritunggal.
KABAR BURUK: Orang-orang Muslim tidak diwajibkan untuk percaya bahwa ke-Tritunggalan Allah adalah sebuah dusta. Tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran yang secara tegas menolak wahyu di dalam Inji, bahwa Allah adalah Bapa, Putera dan Roh Kudus.
KABAR BAIK: Atas dasar Al-Quran, orang-orang Muslim bisa percaya bahwa Allah hidup dan berkarya di dalam dan dengan Kristus, sebagai Pribadi yang Tritunggal secara rohani. Karena itu, Kristus melakukan pekerjaan Ilahi (membangkitkan orang mati dan menciptakan – Q.S 3:49), hidup sekarang bersama dengan Allah di surga (Q.S 4:158), dan memiliki asma Ilahi (Firman Allah – Q.S 3:45 – dan Roh Allah – Q.S 4:171).
KESAKSIAN: Nama saya Uthman dan istri saya bernama Modina. Kami berdua tinggal di India Utara di dekat perbatasan dengan Bangladesh. Dahulu kami berdua adalah orang-orang Muslim. Saya bekerja sebagai nelayan. Untuk tambahan, saya dan istri saya mengelola sebidang tanah dan mendapatkan penghasilan dari sana. Suatu hari saya berlayar di laut untuk menangkap ikan
bersama dengan enam belas teman saya sesama nelayan, ketika tiba-tiba badai yang sangat berbahaya menyerang. Kami berada sangat jauh dari pantai yang aman. Ketakutan oleh badai itu, semua berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan dan dewa mereka, karena bukan hanya orang-orang Muslim, tetapi juga ada orang-orang Hindu di sana. Pada saat itu saya ingat sebuah kisah dari kitab Injil yang diceritakan oleh Ibu Anwara kepada saya—tentang bagaimana Kristus pernah menenangkan badai di laut. Saya mendorong teman-teman saya untuk meminta pertolongan kepada Kristus. Karena itu kami semua berdoa kepada Kristus, dan badai itu berhenti, laut menjadi tenang. Saya kembali ke rumah dan menceritakan kepada Ibu Anwara pengalaman yang sangat luar biasa itu. Saya mengatakan kepadanya bagaimana Kristus sungguh-sungguh secara langsung menyelamatkan saya dari air yang dalam. Saya mengakui dosa-dosa saya kepada Tuhan dan pergi ke gereja, dimana saya menerima baptisan, setelah saya memberikan kesaksian akan iman saya kepada Yesus. Ketika istri saya, yang sudah secara rahasia mengikut Kristus selama beberapa waktu, melihat iman yang demikian, lalu ia, juga, mendapatkan keberanian untuk meminta dibaptiskan. Hari ini kami secara teratur datang ke sebuah gereja Kristen di tempat saya, dan mengingat bahwa Allah, melalui iman kepada Yesus Kristus, menyelamatkan saya dari kematian yang sebenarnya sudah pasti dalam badai di lautan luas.
DOA: Allah yang benar dan setia, kami memuliakan nama-Mu yang agung. Kami bersyukur bahwa Engkau, dalam kesatuan yang sempurna dengan Kristus dan Roh Kudus-Mu, sudah melakukan dan terus melakukan mujizat. Engkau melakukan ini bukan hanya untuk menolong kami manusia, tetapi juga untuk menyatakan diri-Mu kepada kami. Bukalah telinga dan hati kami sehingga kami bisa mendengar dan menerima Engkau, sebagaimana adanya Engkau.
PERTANYAAN: Apakah perbedaan antara ke-Tritunggalan Ilahi, yang ditolak oleh Al-Quran, dengan kesaksian Injil akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus? Bagian-bagian Al-Quran mana saja yang menegaskan tentang ke-Tritunggalan Kristen?
UNTUK DIHAFALKAN: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20 – Perkataan Kristus kepada murid-murid-Nya)
JAWABAN: Di dalam Al-Quran ada lebih dari 30 bagian yang nampaknya menolak keyakinan Kristen akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Semuanya itu bisa digolongkan dalam 13 pernyataan. Namun, tidak satupun dari pernyataan itu, yang secara tepat menyentuh keyakinan Kristen mengenai Allah Tritunggal:
1. Manusia tidak diijinkan untuk menyekutukan makhluk lain dengan Allah: Tuduhan menyekutukan atau menggabungkan makhluk lain dengan Allah (syirik) sering nampak di dalam Al-Quran, sebagai contoh: “…maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)!” (Q.S 23:92). Ini menjelaskan tentang manusia yang mengambil suatu makhluk dan kemudian menyembahnya di samping Allah. Orang-orang Kristen dengan tegas menolak melakukan hal yang demikian. Putera dan Roh Kudus bukanlah tuhan-tuhan tambahan di samping Bapa, tetapi adalah satu dengan Dia.
2. Tidak ada manusia yang menjadi tuhan selain Allah: “Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, .... …” (Surat al-Anbiya' 21:29) Orang-orang Kristen juga percaya demikian. Tidak ada manusia atau malaikat yang bisa mengatakan, “Aku adalah Allah,” karena mereka semua hanyalah makhluk Allah.
3. Tidak ada tiga allah, dan hanya ada satu Allah: “. . . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa.” (Surat al-Nisa' 4:171). Orang-orang Kristen meyakini hal itu juga. Mereka tidak percaya kepada tiga allah, tetapi kepada Bapa, Putera dan Roh Kudus sebagai satu-satunya Allah.
4. Allah bukan salah satu dari antara tiga: “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", ...” (Surat al-Ma'ida 5:73) Ini, juga ditegaskan oleh orang-orang Kristen. Allah bukanlah salah satu dari tiga: Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah Allah yang satu dan unik.
5. Allah bukanlah al-Masih: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera … ” (Surat al-Ma’ida 5:17, 72) Tidak ada orang Kristen yang mengatakan, “Tidak ada Allah selain Kristus, dan kami hanya menyembah Dia.” Namun, mereka, sebagaimana yang ditulis di dalam Al-Quran, percaya bahwa Kristus adalah Firman Allah yang menjadi manusia.
6. Allah tidak menambahkan kepada diri-Nya satu ilah lain yang dilahirkan (walad): Pernyataan ini muncul 13 kali di dalam Al-Quran, sebagai contoh, “Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak yang dilahirkan-Nya (walad)". Maha Suci Allah! Tidak demikian! …” (Surat al-Baqara 2:116; lihat juga Q.S 10:68; 17:111; 18:4; 19:35; 19:88-92 (tiga kali); 21:26; 23:91; 25:2; 39:4 dan 72:3) Orang-orang Kristen menolak, sebagaimana orang-orang Muslim juga, pandangan apapun bahwa Allah mengambil bagi diri-Nya suatu pribadi Ilahi yang dilahirkan (walad) secara alamiah, yaitu dilahirkan melalui ayah duniawi dan dilahirkan oleh ayah duniawi itu. Bapa, Putera dan Roh Kudus tidak menjadi satu pada suatu waktu di masa lalu, namun, Bapa, Putera dan Roh Kudus sudah dari kekekalan adalah Allah yang satu dan unik. Bapa tidak menambahkan kepada diri-Nya sebagai Allah suatu pribadi yang dilahirkan secara manusia, namun, dengan menjadi manusia, Putera yang kekal yang selalu menjadi satu dengan Bapa, menjadi Pribadi yang dilahirkan secara manusia (walad), ketika anak dara Maria melahirkan-Nya.
7. Allah tidak memiliki seksualitas seperti manusia: “…Bagaimana Dia (yaitu Allah) mempunyai anak (walad) padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu;” (Surat al-An'am 6:101; lihat juga Surat 5:116). Orang-orang Kristen menolak hal itu juga. Allah tidak menjadi seorang laki-laki untuk bisa menjalani hubungan seksual dengan seorang wanita dari dunia ini dan mendapatkan seorang anak darinya, yang kemudian harus dilahirkannya. Namun, tanpa melalui istri, sang Anak langsung ada dari Bapa, bukan secara seksual tetapi secara rohani, dan di dalam Roh Kudus sang Putera tetap menjadi satu dengan Bapa. Anak yang kekal menjadi manusia, dengan dilahirkan oleh anak dara Maria.
8. Allah tidak beranak: “Dia (yaitu Allah) tiada beranak (lam yalid) …” (Surat al-Ikhlas 112:3) Al-Quran mengartikan pernyataan ini dalam artian seksualitas. Orang-orang Kristen tidak percaya akan kelahiran sang Putera dalam arti seksualitas muncul dari Bapa sebagai ibu-Nya. Namun, sang Putera adalah anak secara langsung secara rohani dari Bapa, yang speenuhnya satu dengan Dia.
9. Allah tidak diperanakkan: “…dan tidak (Allah) pula diperanakkan (lam yuwlad).” (Surat al-Ikhlas 112:3) Hal yang sama terjadi di sini. Sang Putera, sebagai anak, tidak dilahirkan dalam arti seksual dari Allah sebagai ibu-Nya. Namun, Ia adalah Anak yang unik, rohani dan kekal yang langsung berasal dari Bapa, dan menjadi manusia ketika anak Maria melahirkan-Nya.
10. Allah tidak memiliki pribadi yang dilahirkan-Nya (walad): “Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak (walad), maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (Surat al-Zukhruf 43:81; lihat juga Surat 4:171d) Di sini, Al-Quran menjelaskan mengenai kelahiran secara seksual melalui seorang istri. Orangorang Kristen juga percaya : Semua manusia yang dilahirkan adalah milik Allah, tetapi tidak satupun dari mereka yang adalah ilah karena dilahirkan secara seksual.
11. Kristus bukanlah anak (ibn) Allah: “…orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera (ibn) Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling!” (Surat at-Taubah 9:30) Di sini Al-Quran, paling tidak dalam pemahaman linguistiknya, hampir mendekati keyakinan yang sesungguhnya dipercaya oleh orang-orang Kristen. Dalam Perjanjian Baru Kristus disebutkan 43 kali disebut secara langsung, dan 25 kali secara tidak langsung, sebagai Anak Allah. Namun karena orang-orang Muslim tidak pernah memahami keberadaan Kristus sebagai Putera yang Ilahi tanpa kaitan dengan hal seksual, maka bahkan ayat inipun tidak menyentuh iman Kristen, karena Kristus adalah Anak dari Bapa dalam arti rohani, dan bukan dalam pemahaman seksual.
12. Manusia bukanlah anak-anak Allah: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak (abna’ = bentuk jamak untuk ibn) Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya ...” (Surat al-Ma'ida 5:18) Yang dikatakan di atas tentang Kristus Putera Allah juga harus disebutkan di sini. Orang-orang Kristen tidak menganggap diri mereka, sebagaimana tafsiran orang-orang Muslim dari ayat ini, sebagai anak-anak yang secara seksual dilahirkan oleh Allah, tetapi sebagai anak-anak rohani yang diangkat oleh Allah ke dalam persekutuan Ilahi dengan-Nya.
13. Kristus bukan Tuhan selain Allah: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya (ahbar) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. …” (Surat at-Taubah 9:31; lihat juga Q.S 17:111)
Orang-orang Kristen tidak percaya bahwa Kristus menjadi Tuhan, karena Ia menggantikan posisi Allah, tetapi karena Ia, sebagai Putera, yang sejak kekekalan adalah satu dengan Bapa dan Roh Kudus.
Sebagai tambahan untuk pernyataan-pernyataan di dalam Al-Quran di atas yang nampaknya menolak iman Kristen kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus ada beberapa bagian di dalam Al-Quran yang secara praktis menegaskan iman Kristen kepada Allah Tritunggal:
1. Allah meneguhkan Kristus dengan Roh Kudus: “…Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus...” (Surat al-Baqara 2:87, 253; lihat juga Surat 5:110, dimana beberapa dari mujizat Kristus disebutkan) Allah meneguhkan anak Maria dengan Roh Kudus, sehingga Ia bisa melakukan mujizat. Di sini Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus berkarya bersama. Ini adalah Allah Tritunggal yang berkarya, yang dipercaya oleh orang Kristen.
2. Kristus adalah Roh Allah: “... Sesungguhnya Al Masih, 'Isa (Yesus) putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan firman-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya (yaitu Allah) .... …” (Surat an-Nisa' 4:171; lihat juga Suras 21:91 and 66:12) Di sini Al-Quran tidak hanya mengungkapkan adanya kerjasama antara Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus, tetapi juga menegaskan tentang hakekat kesatuan antara Allah Bapa, Roh-Nya dan Kristus. Ini hanya bisa dipahami dalam kerangka iman Kristen kepada Allah Tritunggal.
KABAR BURUK: Orang-orang Muslim tidak diwajibkan untuk percaya bahwa ke-Tritunggalan Allah adalah sebuah dusta. Tidak ada pernyataan di dalam Al-Quran yang secara tegas menolak wahyu di dalam Inji, bahwa Allah adalah Bapa, Putera dan Roh Kudus.
KABAR BAIK: Atas dasar Al-Quran, orang-orang Muslim bisa percaya bahwa Allah hidup dan berkarya di dalam dan dengan Kristus, sebagai Pribadi yang Tritunggal secara rohani. Karena itu, Kristus melakukan pekerjaan Ilahi (membangkitkan orang mati dan menciptakan – Q.S 3:49), hidup sekarang bersama dengan Allah di surga (Q.S 4:158), dan memiliki asma Ilahi (Firman Allah – Q.S 3:45 – dan Roh Allah – Q.S 4:171).
KESAKSIAN: Nama saya Uthman dan istri saya bernama Modina. Kami berdua tinggal di India Utara di dekat perbatasan dengan Bangladesh. Dahulu kami berdua adalah orang-orang Muslim. Saya bekerja sebagai nelayan. Untuk tambahan, saya dan istri saya mengelola sebidang tanah dan mendapatkan penghasilan dari sana. Suatu hari saya berlayar di laut untuk menangkap ikan
bersama dengan enam belas teman saya sesama nelayan, ketika tiba-tiba badai yang sangat berbahaya menyerang. Kami berada sangat jauh dari pantai yang aman. Ketakutan oleh badai itu, semua berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan dan dewa mereka, karena bukan hanya orang-orang Muslim, tetapi juga ada orang-orang Hindu di sana. Pada saat itu saya ingat sebuah kisah dari kitab Injil yang diceritakan oleh Ibu Anwara kepada saya—tentang bagaimana Kristus pernah menenangkan badai di laut. Saya mendorong teman-teman saya untuk meminta pertolongan kepada Kristus. Karena itu kami semua berdoa kepada Kristus, dan badai itu berhenti, laut menjadi tenang. Saya kembali ke rumah dan menceritakan kepada Ibu Anwara pengalaman yang sangat luar biasa itu. Saya mengatakan kepadanya bagaimana Kristus sungguh-sungguh secara langsung menyelamatkan saya dari air yang dalam. Saya mengakui dosa-dosa saya kepada Tuhan dan pergi ke gereja, dimana saya menerima baptisan, setelah saya memberikan kesaksian akan iman saya kepada Yesus. Ketika istri saya, yang sudah secara rahasia mengikut Kristus selama beberapa waktu, melihat iman yang demikian, lalu ia, juga, mendapatkan keberanian untuk meminta dibaptiskan. Hari ini kami secara teratur datang ke sebuah gereja Kristen di tempat saya, dan mengingat bahwa Allah, melalui iman kepada Yesus Kristus, menyelamatkan saya dari kematian yang sebenarnya sudah pasti dalam badai di lautan luas.
DOA: Allah yang benar dan setia, kami memuliakan nama-Mu yang agung. Kami bersyukur bahwa Engkau, dalam kesatuan yang sempurna dengan Kristus dan Roh Kudus-Mu, sudah melakukan dan terus melakukan mujizat. Engkau melakukan ini bukan hanya untuk menolong kami manusia, tetapi juga untuk menyatakan diri-Mu kepada kami. Bukalah telinga dan hati kami sehingga kami bisa mendengar dan menerima Engkau, sebagaimana adanya Engkau.
PERTANYAAN: Apakah perbedaan antara ke-Tritunggalan Ilahi, yang ditolak oleh Al-Quran, dengan kesaksian Injil akan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus? Bagian-bagian Al-Quran mana saja yang menegaskan tentang ke-Tritunggalan Kristen?
UNTUK DIHAFALKAN: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20 – Perkataan Kristus kepada murid-murid-Nya)
APAKAH ALKITAB SUDAH DIPALSUKAN?
APAKAH ALKITAB SUDAH DIPALSUKAN?
TANTANGAN : Al-Quran mengajarkan bahwa Musa menerima Taurat dari Allah, dan bahwa kepada Daud diberikan Mazmur (Zabur), dan bahwa Kristus diberitakan di dalam Injil. Akan tetapi, orang-orang Muslim tidak mau menerima kitab-kitab itu, yang saat ini semuanya tercantum di dalam Alkitab. Mereka mengatakan bahwa orang-orang Yahudi memalsukan Taurat dan Zabur, dan orang-orang Kristen memalsukan Injil. Karena itu, dikatakan bahwa di dalam Alkitab kita tidak bisa lagi menemukan pernyataan yang asli dari kehendak Allah.
Orang-orang Muslim mendasarkan padangannya kepada pernyataan di dalam Al-Quran, yang mereka terima sebagai firman Allah yang benar dan yang tidak mengalami perubahan. Di sana orang akan menemukan tuduhan terhadap “Para Ahli Kitab” (orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen), yang mengatakan bahwa orang-orang itu sudah memalsukan firman Allah. Dalam mempelajari pernyataan di dalam Al-Quran itu, orang bisa melihat ada tiga jenis tuduhan. Kita akan memperhatikan masing-masing tuduhan ini dengan melihat ayat yang mengatakannya di dalam Al-Quran:
1. Para Ahli Kitab dikatakan menyembunyikan kebenaran dari orang-orang lain: “Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.“ (Surat al-Baqara 2:146, dalam surat yang sama, lihat juga ayat 42, 159, dan 174-176.)
2. Dituduhkan bahwa Para Ahli Kitab itu akan memutar lidah mereka saat membaca Kitab mereka: Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan:"Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Sura Al 'Imran 3:78, lihat juga Surat an-Nisa' 4:46b)
3. Kaum Israel menyelewengkan Firman Allah dari konteks yang sebenarnya : “Apakah kamu (Muslim) masih mengharapkan mereka (kaum Israel) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Surat 2:75, lihat juga Surat an-Nisa' 4:46a dan Surat Al 'Imran 3:13)
Apakah tuduhan-tuduhan di dalam Al-Quran ini cukup untuk menjadi dasar untuk meragukan kebenaran Taurat, Mazmur dan Injil, dan dengan itu meragukan seluruh kebenaran yang ada di dalam Alkitab yang kita miliki sekarang? Atas dasar Al-Quran ini, apakah orang-orang Muslim harus percaya bahwa selkuruh Alkitab sudah dipalsukan?
JAWABAN: Tidak satu bagianpun di dalam Al-Quran yang secara langsung menuduh orang Kristen sudah memalsukan Injil. Karena itu, atas dasar Al-Quran, semua orang Muslim bisa percaya kepada Injil Kristus sebagaimana yang kita miliki sekarang.
Konteks di dalam Al-Quran tentang tuduhan terhadap Para ahli Kitab itu senantiasa menunjuk kepada orang-orang Yahudi, atau kaum Israel, yang menjadi sasaran, dan tidak pernah menunjuk kepada orang Kristen. Dalam mempelajari tuduhan-tuduhan itu ada beberapa pernyataan yang bisa kita pertimbangkan:
1. Kalau Al-Quran mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menyembunyikan kebenaran dari Alkitab, maka Al-Quran sedang mengatakan bahwa mereka TIDAK mengubah teks di dalam Alkitab mereka yang berasal dari Allah. Kebenaran yang ada di dalam Alkitab yang mereka sembunyikan pastilah tetap ada, meskipun mereka mendiamkannya.
2. Kalau Al-Quran mengatakan bahwa kaum Isarel memutar-mutar lidah mereka saat membaca Alkitab, dan dengan itu berkata dusta terhadap Allah, maka Al-Quran sedang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi TIDAK memalsukan isi Alkitab yang diturunkan oleh Allah kepada mereka. Mengutip secara salah terhadap isi sebuah buku tidak membawa perubahan apapun terhadap teks buku yang dikutip itu.
3. Akhirnya, Al-Quran mengatakan bahwa hanya segolongan orang-orang Yahudi saja yang dengan sengaja sudah memalsukan beberapa bagian firman Allah. Dengan mengatakan demikian, Al-Quran sedang menjelaskan bahwa TIDAK SEMUA orang Yahudi memalsukan Alkitab mereka, dan bahwa TIDAK seluruh isi Alkitab orang-orang Yahudi sudah dipalsukan oleh sekelompok orang itu. Orang-orang Yahudi yang tidak mengikuti para pemalsu itu sangat menjaga agar Alkitab mereka tetap tidak berisi kepalsuan apapun.
KABAR BURUK: Al-Quran tidak dengan tegas memerintahkan agar orang Muslim percaya kalau Injil yang kita miliki sekarang sudah dipalsukan. Pernyataan kaum Islam bahwa Kitab Suci kaum Israel dan orang-orang Kristen sudah dipalsukan tidak bisa dibenarkan hanya karena adanya tuduhan dari Al-Quran terhadap sekelompok kecil orang-orang Yahudi.
KABAR BAIK : Semua orang Muslim tetap bisa percaya kepada Injil. Menurut pernyataan Al-Quran, semua orang Muslim bisa percaya bahwa Kitab Suci yang diwahyukan oleh Allah kepada orang-orang Yahudi adan orang-orang Kristen memang layak dipercaya.
TAMBAHAN INFORMASI : Dengan membaca Al-Quran, orang bisa menemukan bahwa tidak sedikit di dalamnya tertulis ayat-ayat yang menegaskan kebenaran Taurat dan Inji. Kami akan mendaftarkan di sini bukti dari kitab orang-orang Muslim, yang menunjukkan bahwa Injil, pada jaman Muhammad hidup, belum mengalami perubahan atau dipalsukan:-- Taurat Musa bisa dipercaya : “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan Kitab Taurat. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengan Kitab itu perkara orang-orang Yahudi oleh diputuskan para nabi yang berserah diri (kepada Allah) dan oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka karena mereka diperintahkan untuk memelihara kitab-kitab Allah; mereka menjadi saksi terhadapnya.. . “ (Surat al-Ma'idah 5:44)
-- Injil Kristus bisa dipercaya : “Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu : Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” (Sura al-Mai'da 5:46-47a)
-- Taurat dan Injil harus diakui dalam kebenarannya: “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (Surat al-Ma'idah 5:68)
-- Jika ada keraguan mengenai wahyu dari Allah maka Muhammad diperintahkan untuk bertanya kepada Para Ahli Kitab: “Maka jika engkau berada dalam keragu-raguan tentang apa-apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Surat Yunus 10:94, bandingkan dengan Surat al-Nahl 16:43) Ayat-ayat dari Al-Quran ini menunjukkan dengan jelas bahwa seorang Muslim bisa dan harus menerima Injil sebagai kebenaran.
KESAKSIAN: Nama saya Ahmad dan saya tinggal di Maroko. Saya seorang buruh sederhana yang tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi saya sangat tertarik kepada Injil Kristus. Fawzi, seorang Maroko Kristen, mengunjungi saya dan bercerita mengenai Yesus. Tetapi saya memiliki masalah. Istri saya Aminah menentangnya. Ia takut bahwa saya akan menjadi tidak memiliki sopan santun kalau saya menjadi Kristen, karena ia melihat bahwa banyak turis dari Eropa bersikap tidak sopan ketika mengunjungi negara kami. Karena itu, ia selalu berdoa dengan keras setiap kali Fauzi datang ke rumah kami. Bersama dengan anak perempuan saya, ia akan mengaji ayat-ayat Al-Quran dengan keras untuk mengusir roh Kristen dari rumah kami. Suatu hari anak perempuan saya mengalami sakit batu empedu dan harus dibawa ke rumah sakit. Ketika tinggal di rumah Fauzi yang adalah keluarga Kristen, istri saya mengalami sendiri bahwa orang-orang Kristen jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada dalam pikirannya: mereka sangat ramah, tidak mabuk, tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, dan berpakaian dengan sangat sopan. Hal itu sangat mengesankan baginya sehingga ia juga, setelah anak perempuan kami sembuh, mulai tertarik kepada Kristus. Setelah beberapa lama berbicara dengan Fauzi dan istrinya, Fatiha, saya dan istri saya menjadi orang Kristen. Hari ini anak-anak kami tidak lagi menghafalkan ayat-ayat Al-Quran, tetapi ayat-ayat dari Alkitab, sehingga Firman Allah yang benar bisa diam di dalam hati kami.
DOA : Allah yang Kudus, saya bersyukur bahwa Engkau mengutus para utusan-Mu ke dunia ini, sehingga kami bisa mengenal Engkau dan melakukan yang berkenan kepada-Mu. Terima kasih atas para utusan-Mu Musa, Daud dan Kristus. Bukalah hati kami kepada sabda-Mu, yang Kau berikan kepada kami melalui mereka di dalam Taurat, Zabur dan Injil. Saya sungguh-sungguh ingin taat hanya kepada-Mu.
PERTANYAAN: Apa tuduhan-tuduhan yang dikatakan oleh Al-Quran terhadap Para Ahli Kitab mengenai Firman Allah yang mereka miliki? Apa yang dikatakan Al-Quran mengenai Taurat dan Injil? Bisakah orang percaya kepada Injil sebagaimana yang kita miliki sekarang?
UNTUK DIHAFALKAN : “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2 – Firman Allah melalui nabi Yesaya).
TANTANGAN : Al-Quran mengajarkan bahwa Musa menerima Taurat dari Allah, dan bahwa kepada Daud diberikan Mazmur (Zabur), dan bahwa Kristus diberitakan di dalam Injil. Akan tetapi, orang-orang Muslim tidak mau menerima kitab-kitab itu, yang saat ini semuanya tercantum di dalam Alkitab. Mereka mengatakan bahwa orang-orang Yahudi memalsukan Taurat dan Zabur, dan orang-orang Kristen memalsukan Injil. Karena itu, dikatakan bahwa di dalam Alkitab kita tidak bisa lagi menemukan pernyataan yang asli dari kehendak Allah.
Orang-orang Muslim mendasarkan padangannya kepada pernyataan di dalam Al-Quran, yang mereka terima sebagai firman Allah yang benar dan yang tidak mengalami perubahan. Di sana orang akan menemukan tuduhan terhadap “Para Ahli Kitab” (orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen), yang mengatakan bahwa orang-orang itu sudah memalsukan firman Allah. Dalam mempelajari pernyataan di dalam Al-Quran itu, orang bisa melihat ada tiga jenis tuduhan. Kita akan memperhatikan masing-masing tuduhan ini dengan melihat ayat yang mengatakannya di dalam Al-Quran:
1. Para Ahli Kitab dikatakan menyembunyikan kebenaran dari orang-orang lain: “Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.“ (Surat al-Baqara 2:146, dalam surat yang sama, lihat juga ayat 42, 159, dan 174-176.)
2. Dituduhkan bahwa Para Ahli Kitab itu akan memutar lidah mereka saat membaca Kitab mereka: Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan:"Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Sura Al 'Imran 3:78, lihat juga Surat an-Nisa' 4:46b)
3. Kaum Israel menyelewengkan Firman Allah dari konteks yang sebenarnya : “Apakah kamu (Muslim) masih mengharapkan mereka (kaum Israel) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Surat 2:75, lihat juga Surat an-Nisa' 4:46a dan Surat Al 'Imran 3:13)
Apakah tuduhan-tuduhan di dalam Al-Quran ini cukup untuk menjadi dasar untuk meragukan kebenaran Taurat, Mazmur dan Injil, dan dengan itu meragukan seluruh kebenaran yang ada di dalam Alkitab yang kita miliki sekarang? Atas dasar Al-Quran ini, apakah orang-orang Muslim harus percaya bahwa selkuruh Alkitab sudah dipalsukan?
JAWABAN: Tidak satu bagianpun di dalam Al-Quran yang secara langsung menuduh orang Kristen sudah memalsukan Injil. Karena itu, atas dasar Al-Quran, semua orang Muslim bisa percaya kepada Injil Kristus sebagaimana yang kita miliki sekarang.
Konteks di dalam Al-Quran tentang tuduhan terhadap Para ahli Kitab itu senantiasa menunjuk kepada orang-orang Yahudi, atau kaum Israel, yang menjadi sasaran, dan tidak pernah menunjuk kepada orang Kristen. Dalam mempelajari tuduhan-tuduhan itu ada beberapa pernyataan yang bisa kita pertimbangkan:
1. Kalau Al-Quran mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menyembunyikan kebenaran dari Alkitab, maka Al-Quran sedang mengatakan bahwa mereka TIDAK mengubah teks di dalam Alkitab mereka yang berasal dari Allah. Kebenaran yang ada di dalam Alkitab yang mereka sembunyikan pastilah tetap ada, meskipun mereka mendiamkannya.
2. Kalau Al-Quran mengatakan bahwa kaum Isarel memutar-mutar lidah mereka saat membaca Alkitab, dan dengan itu berkata dusta terhadap Allah, maka Al-Quran sedang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi TIDAK memalsukan isi Alkitab yang diturunkan oleh Allah kepada mereka. Mengutip secara salah terhadap isi sebuah buku tidak membawa perubahan apapun terhadap teks buku yang dikutip itu.
3. Akhirnya, Al-Quran mengatakan bahwa hanya segolongan orang-orang Yahudi saja yang dengan sengaja sudah memalsukan beberapa bagian firman Allah. Dengan mengatakan demikian, Al-Quran sedang menjelaskan bahwa TIDAK SEMUA orang Yahudi memalsukan Alkitab mereka, dan bahwa TIDAK seluruh isi Alkitab orang-orang Yahudi sudah dipalsukan oleh sekelompok orang itu. Orang-orang Yahudi yang tidak mengikuti para pemalsu itu sangat menjaga agar Alkitab mereka tetap tidak berisi kepalsuan apapun.
KABAR BURUK: Al-Quran tidak dengan tegas memerintahkan agar orang Muslim percaya kalau Injil yang kita miliki sekarang sudah dipalsukan. Pernyataan kaum Islam bahwa Kitab Suci kaum Israel dan orang-orang Kristen sudah dipalsukan tidak bisa dibenarkan hanya karena adanya tuduhan dari Al-Quran terhadap sekelompok kecil orang-orang Yahudi.
KABAR BAIK : Semua orang Muslim tetap bisa percaya kepada Injil. Menurut pernyataan Al-Quran, semua orang Muslim bisa percaya bahwa Kitab Suci yang diwahyukan oleh Allah kepada orang-orang Yahudi adan orang-orang Kristen memang layak dipercaya.
TAMBAHAN INFORMASI : Dengan membaca Al-Quran, orang bisa menemukan bahwa tidak sedikit di dalamnya tertulis ayat-ayat yang menegaskan kebenaran Taurat dan Inji. Kami akan mendaftarkan di sini bukti dari kitab orang-orang Muslim, yang menunjukkan bahwa Injil, pada jaman Muhammad hidup, belum mengalami perubahan atau dipalsukan:-- Taurat Musa bisa dipercaya : “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan Kitab Taurat. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengan Kitab itu perkara orang-orang Yahudi oleh diputuskan para nabi yang berserah diri (kepada Allah) dan oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka karena mereka diperintahkan untuk memelihara kitab-kitab Allah; mereka menjadi saksi terhadapnya.. . “ (Surat al-Ma'idah 5:44)
-- Injil Kristus bisa dipercaya : “Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu : Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” (Sura al-Mai'da 5:46-47a)
-- Taurat dan Injil harus diakui dalam kebenarannya: “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (Surat al-Ma'idah 5:68)
-- Jika ada keraguan mengenai wahyu dari Allah maka Muhammad diperintahkan untuk bertanya kepada Para Ahli Kitab: “Maka jika engkau berada dalam keragu-raguan tentang apa-apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Surat Yunus 10:94, bandingkan dengan Surat al-Nahl 16:43) Ayat-ayat dari Al-Quran ini menunjukkan dengan jelas bahwa seorang Muslim bisa dan harus menerima Injil sebagai kebenaran.
KESAKSIAN: Nama saya Ahmad dan saya tinggal di Maroko. Saya seorang buruh sederhana yang tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi saya sangat tertarik kepada Injil Kristus. Fawzi, seorang Maroko Kristen, mengunjungi saya dan bercerita mengenai Yesus. Tetapi saya memiliki masalah. Istri saya Aminah menentangnya. Ia takut bahwa saya akan menjadi tidak memiliki sopan santun kalau saya menjadi Kristen, karena ia melihat bahwa banyak turis dari Eropa bersikap tidak sopan ketika mengunjungi negara kami. Karena itu, ia selalu berdoa dengan keras setiap kali Fauzi datang ke rumah kami. Bersama dengan anak perempuan saya, ia akan mengaji ayat-ayat Al-Quran dengan keras untuk mengusir roh Kristen dari rumah kami. Suatu hari anak perempuan saya mengalami sakit batu empedu dan harus dibawa ke rumah sakit. Ketika tinggal di rumah Fauzi yang adalah keluarga Kristen, istri saya mengalami sendiri bahwa orang-orang Kristen jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang ada dalam pikirannya: mereka sangat ramah, tidak mabuk, tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, dan berpakaian dengan sangat sopan. Hal itu sangat mengesankan baginya sehingga ia juga, setelah anak perempuan kami sembuh, mulai tertarik kepada Kristus. Setelah beberapa lama berbicara dengan Fauzi dan istrinya, Fatiha, saya dan istri saya menjadi orang Kristen. Hari ini anak-anak kami tidak lagi menghafalkan ayat-ayat Al-Quran, tetapi ayat-ayat dari Alkitab, sehingga Firman Allah yang benar bisa diam di dalam hati kami.
DOA : Allah yang Kudus, saya bersyukur bahwa Engkau mengutus para utusan-Mu ke dunia ini, sehingga kami bisa mengenal Engkau dan melakukan yang berkenan kepada-Mu. Terima kasih atas para utusan-Mu Musa, Daud dan Kristus. Bukalah hati kami kepada sabda-Mu, yang Kau berikan kepada kami melalui mereka di dalam Taurat, Zabur dan Injil. Saya sungguh-sungguh ingin taat hanya kepada-Mu.
PERTANYAAN: Apa tuduhan-tuduhan yang dikatakan oleh Al-Quran terhadap Para Ahli Kitab mengenai Firman Allah yang mereka miliki? Apa yang dikatakan Al-Quran mengenai Taurat dan Injil? Bisakah orang percaya kepada Injil sebagaimana yang kita miliki sekarang?
UNTUK DIHAFALKAN : “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2 – Firman Allah melalui nabi Yesaya).
BAGAIMANAKAH ANAK ABRAHAM DITEBUS?
TANTANGAN: Orang-orang Muslim menerima ajaran Al-Quran, yang mengatakan bahwa manusia bisa diselamatkan dari neraka dan mendapatkan surga dengan melakukan perbuatan baik. Inilah sebabnya mereka menolak keyakinan Kristen akan penebusan dosa atau melalui kematian Kristus sebagai pengganti di kayu salib. Menurut iman ini, manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik. Namun, keselamatan hanya bisa terjadi melalui adanya pihak ketiga, yang sebagai pengganti menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Benarkah memang tidak ada sama sekali jejak penebusan melalui kematian pengganti dari pihak lain yang bisa ditemukan di dalam Al-Quran? Haruskah orang Muslim, dengan demikian, secara penuh menolak iman penebusan melalui kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib?
JAWABAN: Secara sepintas memang nampak demikian, karena Al-Quran (Surat an-Nisa' 4:157) mengatakan bahwa Kristus tidaklah dibunuh ataupun disalibkan, karena Ia sama sekali tidak mati. Justru, Allah dikatakan sudah menyelamatkan Dia dari musuh-musuhnya, yang berniat untuk membunuh-Nya. Bukannya mati dan bangkit dari kematian, Ia dikatakan diangkat langsung ke surga (Surat an-Nisa' 4:158), dimana Ia, menurut tradisi Islam (Hadits), hidup saat ini sampai hari kedatangan-Nya yang kedua kali. Lebih lagi, menurut Al-Quran, bahkan kalaupun Kristus mati, kematian-Nya tidak bisa menjadi pengganti menanggung hukuman yang seharusnya dipikul manusia, karena, secara jelas Al-Quran mengajarkan, tidak ada manusia yang dibebani oleh dosa yang bisa memikul beban dosa orang lain ( Surat al-An'am
6:164, al-Isra' 17:15; Fatir 35:18; al-Zumar 39:7 and an-Najm 53:38)
Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak Abraham yang dikorbankan sebagai korban sembelihan.
Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.' 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.' 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab, maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin 'adhim) Untuk bisa menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik dari ayatnya maupun dari konteksnya.
1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan adanya penebusan (fidya, fidaa') yang sudah terjadi melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu diperlukan?
2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya mengatakan tentang telah terjadinya penebusan, tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu. Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?
3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.
4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?
5. “… yang agung (besar).” ('adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-'adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!
KABAR BURUK: Al-Quran memang menuliskan, bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara umum, jejak tentang adanya kematian pengganti yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.
KABAR BAIK: Untuk alasan ini seorang Mislim bisa, bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri, menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah, dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti tanpa keyakinan itu.
KESAKSIAN: Nama saya Barakatullah dan saya berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu hari saya melihat secarik kertas yang menarik perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh Universitas al-Azhar di Kairo.
Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan agama dari sudut pandang Islam, dan bisa mendapatkan gelar akademis. Saya harus mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu, Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka. Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah, memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Quran (Surat Al 'Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63) Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu. Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini, adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.
DOA: Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.
PERTANYAAN: Menurut Al-Quran, siapakah yang menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus? Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?
UNTUK DIHAFALKAN: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16 – Perkataan Kristus di dalam Injil)
www.answeringmuslims.com
Chinatsu Hayasida mainsite
thereligionofpeace.com
FORUM MURTADIN INDONESIA
JAWABAN: Secara sepintas memang nampak demikian, karena Al-Quran (Surat an-Nisa' 4:157) mengatakan bahwa Kristus tidaklah dibunuh ataupun disalibkan, karena Ia sama sekali tidak mati. Justru, Allah dikatakan sudah menyelamatkan Dia dari musuh-musuhnya, yang berniat untuk membunuh-Nya. Bukannya mati dan bangkit dari kematian, Ia dikatakan diangkat langsung ke surga (Surat an-Nisa' 4:158), dimana Ia, menurut tradisi Islam (Hadits), hidup saat ini sampai hari kedatangan-Nya yang kedua kali. Lebih lagi, menurut Al-Quran, bahkan kalaupun Kristus mati, kematian-Nya tidak bisa menjadi pengganti menanggung hukuman yang seharusnya dipikul manusia, karena, secara jelas Al-Quran mengajarkan, tidak ada manusia yang dibebani oleh dosa yang bisa memikul beban dosa orang lain ( Surat al-An'am
6:164, al-Isra' 17:15; Fatir 35:18; al-Zumar 39:7 and an-Najm 53:38)
Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak Abraham yang dikorbankan sebagai korban sembelihan.
Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.' 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.' 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab, maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin 'adhim) Untuk bisa menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik dari ayatnya maupun dari konteksnya.
1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan adanya penebusan (fidya, fidaa') yang sudah terjadi melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu diperlukan?
2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya mengatakan tentang telah terjadinya penebusan, tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu. Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?
3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.
4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?
5. “… yang agung (besar).” ('adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-'adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!
KABAR BURUK: Al-Quran memang menuliskan, bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara umum, jejak tentang adanya kematian pengganti yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.
KABAR BAIK: Untuk alasan ini seorang Mislim bisa, bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri, menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah, dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti tanpa keyakinan itu.
KESAKSIAN: Nama saya Barakatullah dan saya berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu hari saya melihat secarik kertas yang menarik perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh Universitas al-Azhar di Kairo.
Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan agama dari sudut pandang Islam, dan bisa mendapatkan gelar akademis. Saya harus mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu, Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka. Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah, memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Quran (Surat Al 'Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63) Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu. Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini, adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.
DOA: Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.
PERTANYAAN: Menurut Al-Quran, siapakah yang menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus? Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?
UNTUK DIHAFALKAN: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16 – Perkataan Kristus di dalam Injil)
www.answeringmuslims.com
Chinatsu Hayasida mainsite
thereligionofpeace.com
FORUM MURTADIN INDONESIA
Langganan:
Postingan (Atom)